Suku Kubu - Melangun dan Kawin Cigak

Hari itu tanggal 3 Agustus 2014, disela liburan lebaran kami bertemu dengan rombongan suku Kubu pimpinan Penyiram diskeitar kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT. SMP (Incasi Raya Group), rombongan yang berjumlah sekitar 30 orang tersebut sedang melakukan prosesi “Melangun”, berpindah dari pemukiman mereka di batang bakur, jarak Batang bakur dengan kawasan perkebunan PT. SMP tersebut sekitar tujuh jam berjalan kaki.

Kepindahan mereka dikarenakan salah seorang anak dari Idar meninggal dunia dalam perjalanan mereka menuju dukun berobat, setahu saya anak yang meninggal tersebut belum diberi nama kendati usianya sudah menginjak sekitar satu tahun setengah, sebagaimana diterangkan Udin salah satu rombongan Penyiram, prosesi Melangun saat ini kemungkinan tidak akan selama prosesi melangun pada saat kawasan hutan mereka masih luas dan lebat, kata kalau dulu melangun biasa mereka lakukan selama empat tahun lebih kurang, kalau sekarang mungkin tidak akan selama itu, jelas Udin.
Kawasan hutan Dharmasraya yang semakin berkurang membuat ruang gerak mereka semakin sempit, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk berpindah lebih jauh ketika mereka melakukan prosesi Melangun, ketika saya Tanya budaya suku kubu yang satu ini (Melangun) seperti dijelaskan udin, kematian antara orang luar (Orang koto) dengan orang dalam (suku Kubu) sangat jelas perbedaannya disni, orang luar akan menguburkan kematian didalam tanah, semantara itu suku kubu akan membuat “Singkap” berbentuk sebuah menara, didalam singkap itu mereka meletakkan mayat yang meninggal, singkap ini dibuat sejauh mungkin ditengah hutan. Proses perlakuan terhadap mayat seperti ini hampir mirip dengan yang dilakukan suku Toraja di Sulawesi sana, hanya saja suku kubu tidak melakukannya didinding bukit batu.

Saya audiensi cukup lama dengan Udin, perihal kematian dan perkawinan suku kubu di Dharmasraya ini. Terkait dengan perkawinan suku kubu juga mengenal istilah yang berkonotasi negative, seperti “kawin cigak”. Orang luar (orang kota) memberikan istilah kawin lari, terhadap pasangan yang melakukan perkawinan tanpa persetujuan keluarga atau perkawinan yang disebabkan hal negative lainnya, sementara itu suku Kubu menamakan perkawinan seperti dimaksud diatas dengan nama “kawin Cigak”.

Kawin cigak menurut udin, merupakan perkawinan yang tidak mengikuti adat istiadat suku Kubu, perkawinan yang dilakukan secara adat harus dihadiri oleh pemimpin masa dan penghulu/ninik mamak semua kelompok suku kubu, jika seorang gadis hendak menikah maka orang tuanya akan membayar kepada pemimpin masa dan ninik mamak pihak pengantin laki-laki , pembayaran tersebut akan dijatuhkan sebagai hutang bagi pengantin laki-laki yang akan dibayarnya selama hidup bersama dengan istrinya.

kompas musafir
Dari penjelasan udin tersebut maka bisa saya simpulkan, kawin Cigak merupakan istilah kumpul kebo dalam suku Kubu, karena perkawinan seperti ini tidak satupun mengikuti aturan adat suku Kubu, lebih jelasnya Udin mengatakan “Mereka kawin atas kesepakatan mereka berdua, saja.”

Artikel terkait budaya suku kubu :
1. kearifan lokal suku kubu
2. Pemilu pertama suku Kubu
3. Menikah dengan gadis suku kubu
4. Darah Naga di pemukiman Suku Kubu

0 comments