NASIB 68 SISWA SEKOLAH DASAR 25 SUNGAI RUMBAI

kompas musafir
Pukul Sembilan pagi, halaman sekolah SD 25 Sungai Rumbai diramaikan anak-anak bermain, ada yang bermain sepak bola, berkejaran kesana kemari sebagian lagi berenang di sungai Lubuk Besar, pagi itu hari senin (12/03), dalam disipilin kurikulum seharusnya pada waktu itu anak-anak berada dalam ruang kelas mengikuti materi pelajaran.

Sedang asyik mengamati anak-anak bermain, seorang pemuda datang menghampiri kami, yang dikatehui beliau salah seorang tenaga pengajar di sekolah tersebut, melalui pemuda itu pula kami mendapat keterangan bahwa anak-anak di sekolah itu lebih banyak menghabiskan waktu di halaman sekolah dari pada di dalam kelas.

“Sekolah kami kekurangan tenaga pengajar, pak”, jelas Hamden.

“Berapa total jumlah siswa”,

“untuk tahun ini sekolah memiliki jumlah murid 68 siswa”.

Dialog ringkas itu tidak diperpanjang lagi, kami asyik melihat anak-anak yang sedang bermain bola dihalaman sekolah, diantara siswa laki-laki ada juga siswa perempuan yang ikut mengejar bola, WC yang telah disulap menjadi ruangan tempat belajar beberapa waktu lalu tidak lagi dipergunakan, sebab jumlah siswa SD 25 tidak lagi sebanyak satu tahun yang lalu.

“Menurut bapak, apa yang menyebabkan orang tua tidak lagi mendaftarkan anak-anaknya disekolah ini”,

“Sekolah kami kekurangan guru, disebelah kampung Lubuk Besar ini ada pula sekolah swasta setingkat SD di perkebunan PT.TKA, orang tua dikampung ini lebih banyak yang memasukkan anak-anaknya sekolah itu, daripada disini”.

SD 25 sepertinya mengalami banyak persoalan, disamping jumlah kelas 3 ruangan, jumlah tenaga pengajar juga sekitar lima orang, diantara jumlah itu hanya satu orang yang berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil), jumlah tenaga pengajar sebanyak itu menurut Hamden tidak mengurangi nilai beban belajar untuk para siswa, namun menjadi kendala ketika pihak sekolah mengajukan permohonan kepada dinas terkait untuk menambah ruang kelas, alasan kongkrit yang menghambat proses itu adalah jumlah siswa yang tidak mencukupi angka seratus.

Sementara itu Konsep yang diatur oleh undang-undang pendidikan nomor 20 tahun 2003, tidak menjelaskan jumlah peserta didik menjadi kendala dalam memenuhi sarana dan prasarana untuk pendidikan.

Penjelasan lain yang diterangkan Hamden, dalam hal pelaksanaan ujian, ketika jumlah peserta didik tidak mencukupi atau dibawah garis seratus, maka pihak sekolah melaksanakan ujian di sekolah terdekat, artinya sekolah itu tidak layak untuk melaksanakan ujian negara karena jumlah muridnya tidak sesuai dengan ketentuan yang sedang dianut dinas pendidikan.

Konsekuensi pendidikan yang demikian sepertinya simpang siur, antara dusun Lubuk Besar dengan sekolah dasar yang berada di lingkungan PT.TKA jarak tempuhnya cukup jauh, disamping itu kondisi jalannya tidak semulus jalan ibukota, apalagi ketika musim hujan, jalanan menjadi sangat sulit untuk dilalui.

0 comments