Kisruh Sunyi Harga BBM

kompas musafir
Ribut, rusuh, bahkan tidak jarang terjadi tindakan mengganggu ketentraman umum manakala, mahasiswa dan demonstran yang mengaku peduli dengan rakyat melakukan aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak), seolah-olah perjuangan menolak kenaikan BBM akan selesai di jalanan. Padahal tindakan pemerintah menaikkan harga BBM bukan kali ini saja terjadi, bahkan tahun-tahun sebelumnya Negara juga pernah mengeluarkan kebijakan menaikkan harga BBM.

Aktivis dan pemerhati nasib rakyat tidak kalah pula ributnya di halaman-halaman opini media nasional dan lokal, Negara kita akan begini dan begitulah kata mereka jika BBM dinaikkan, bagi yang cerdas menyikapi kenaikan BBM sebenarnya sudah sangat telat, bahkan menurut bapak Yusuf Kalla pemerintah sangat telat dalam mengambil keputusan menaikkan harga BBM ini, seperti yang disampaikan Kalla jumat (14/6) lalu setelah kuliah Umum di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Namun satu hal yang bisa kita pastikan emosional konsumtif masyarakat Indonesia tidak akan berubah dengan naiknya harga BBM, artinya berapapun harga BBM, masyarakat khususnya pengguna motor pasti akan membeli karena lebih hemat ketimbang menaiki kendaraan umum ketika hendak bepergian, ini suatu hal yang tidak bisa kita pungkiri.

Ironi sekali Ketika kita disibukkan dengan harga minyak dunia yang semakin menanjak diiringi dengan kenaikan harga BBM, namun disisi lain kita dengan santai menikmati kemanjaan yang disuguhkan jepang dengan aneka teknologi kendaraannya, yang dijual dan beredar diseluruh penjuru Negara Kesatuan Republik Indonesia, sementara itu orang-orang di Negara matahari terbit tersebut lebih senang bersepeda menuju tempat kerja mereka ketimbang mengendarai mobil atau motor buatan mereka sendiri.

Penjualan sepeda motor produksi jepang mendapati rating tertinggi di Negara Indonesia, dengan sendirinya kebutuhan kita akan BBM meningkat, khususnya untuk jenis Solar dan Premium, namun sepertinya kita tidak menyadari prestasi jepang itu salah satu dampak “teror” terhadap rakyat terkait dengan kenaikan harga BBM, dan pemerintah terkesan sepi saja menyikapi dampak penjualan “Kuda dari jepang” tersebut. Lihat saja dimana-mana berjamur dealer-dealer kendaraan buatan jepang, dengan sistim kredit yang “aneh” ribuan unit kendaraan tersebut laris terjual dipasaran setiap harinya, siapa yang menyadari kalau kesuksesan jepang tersebut turut mempengaruhi percepatan penyedotan minyak bumi kita.

Ini baru soal kendaraan, belum lagi jika kita menilik soal permainan “Siluman” dibalik kongkalingkong pendistribusian BBM bersubsidi. Untuk wilayah sumatera misalnya, betapa banyaknya industry pertambangan dan perkebunan, bisa kita hitung saja berapa dari perusahaan tersebut yang betul-betul menggunakan minyak industry, bukan “mencuri” dari BBM bersubsidi. Ratusan unit truck container tiap hari mengangkut hasil industry pertambangan misalnya, tetap saja menggunakan BBM bersubsidi, begitu pula dengan truck pengangkut hasil perkebunan, baik itu truck pengangkut minyak maupun buah mentah, juga menggunakan BBM bersubsidi, alasan klasik para sopir mengatakan bahwa, dari ongkos mereka rugi jika menggunakan BBM industry, sementara itu dalam aturan perundang-undangan setiap pelaku industry pertambangan dan perkebunan wajib menggunakan minyak industry non subsidi. Hal ini jelas turut mempengaruhi pengurangan BBM bersubsidi untuk rakyat, sekali lagi pertamina dan instansi terkait selaku pengawas seakan-akan menutup mata terhadap kenyataan yang terjadi dilapangan terkait pendistribusian BBM bersubsidi.

Energy alternatif atau Bio Green Energy, sebagai cadangan pengganti minyak bumi yang telah terpakai tidak juga terlalu arif dikembangkan, bahkan di berbagai artikel dikatakan mengembangkan energy alternatif itu membutuhkan biaya yang banyak, dan harus melalui sertifikasi internasional yang super ketat, sehingganya Negara terkesan enggan mengeluarkan dana untuk pengembangannya.

Beginilah konsekuansi yang harus kita tanggung sebagai Negara pengkonsumsi BBM, kita tidak memiliki pengaruh politik yang kuat terkait dengan harga minyak dunia, meski Negara kita juga merupakan salah satu produsen minyak dunia, penjabat kita lebih senang berpolitik melawan elite negaranya sendiri ketimbang menjadi negara berpengaruh di dunia internasional.

Lebih menarik lagi akibat telatnya menaikkan harga BBM, Negara mengalami defisit sebesar US$ 1,62 Miliar pada April 2013 lalu, salah satu penyebabnya adalah karena import Migas sebesar 9,5 persen dari harga US$ 3,6 miliar pada bulan Maret lalu menjadi US$ 3,9 miliar pada bulan April, sebagaimana yang disampaikan Menkeu. Artinya Negara kita harus meningkatkan Import Migas dalam mengatasi konsumsi BBM yang semakin tinggi di Negara kita, andaikan harga BBM dinaikkan pada bulan maret lalu tentunya Negara kita tidak mengalami defisit yang luar biasa tersebut, dari yang dikatakan menkeu tersebut kita bisa menilai siapa sebenarnya yang berperan besar menyengsarakan rakyat terkait dengan harga BBM yang rencananya akan dinaikkan tersebut, sementara itu harga minya dunia sudah lama mengalami kenaikan. Sekali lagi penjabat Negara kita bermain api untuk rakyatnya sendiri, bahkan yang cukup mengejutkan seperti yang disampaikan bapak Yusuf Kalla jumat (17/06) setelah kuliah umum di kedokteran UI, subsidi yang diberikan saat ini merupakan hasil dari utang, yang nantinya akan dibayar juga dari subsidi rakyat tersebut.

Bapak-bapak dewan dan elite politik lainnya terlalu sibuk debat cari muka untuk rakyat terkait soal harga BBM, sementara itu Negara kita import Migas juga untuk kebutuhan yang sama, untuk contoh soal yang seperti ini dalam pepatah melayu dikenal dengan istilah “besar pasak daripada tiang”.

Menurut saya, terkait dengan harga BBM ini Negara kita akan begini saja terus menerus pada saat tahun-tahun pergantian periode pemerintahan, debat tidak karuan, berebut mencari muka terhadap rakyat seakan-akan partai “Saya” pahlawan penyelamat ekonomi kerakyatan, sementara kebijakan yang dihasilkannya jauh lebih menyengsarakan ketimbang memberikan kesejahteraan terhadap rakyat.

source foto : republika

0 comments