Kemerdekaan Suku Kubu

kompas musafir
( Foto : Primaha Genta )
Kehidupan orang rimba (Suku Aanak Dalam) kian hari semakin terjepit, persoalan sosial dan kesehatan seakan hantu (Menurut “orang terang”) yang tiada henti-hentinya menakuti kehidupan orang rimba ini, dari sekian soal kehidupan yang lain, terlepas dari kebenaran apakah mereka Marjinal atau di Marjinalkan, orang rimba se-wajibnya menjadi tanggung jawab sebuah Negara yang berdaulat, sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci Undang Undang Dasar Negara yang berdaulat itu sendiri. Maka dari itu tidak ada pembenaran (Justifikasi) apapun tentang tindakan yang memusnahkan atau me-marjinalkan kehidupan mereka selaku orang rimba.

Jambi, merupakan provinsi yang paling banyak di dihuni oleh Orang Rimba, dalam Rimba yang tersisa itu melengking ragam tangis suku-suku yang di stempel Primitif from Indonesian ini, secara khusus pula provinsi ini telah menjadi ladang penelitian oleh perusahaan Universitas-universitas dari dalam dan luar negeri. Gelar dan kekayaan intelektual dipertaruhkan demi mendapat label “Peduli Suku Primitif” ataupun yang sejenisnya untuk kepentingan kotak suara, namun yang terjadi Orang Rimba tidak jua mendapat tempat di hati pemangku gelar itu sendiri, pada akhirnya mereka terus berjalan mencari Rimba yang masih layak untuk di huni dalam memenuhi kebutuhan hidup, kasta apa sebenarnya yang sedang dipersiapkan Negara untuk mereka?

Dalam kajian pelaku Akademika Kehidupan Orang Rimba (Suku Anak Dalam) terpecah dalam berbagai kelompok-kelompok kecil, tersebar sepanjang Hutan mulai dari provinsi Riau, Jambi, Sumatera Barat Bengkulu hingga Sumatera Selatan, hampir setiap waktu kelompok-kelompok orang rimba ini menimbulkan persoalan sosial tersendiri bagi masyarakat komunal yang berdampingan hidup dengan mereka, sebagaimana yang sering dilaporkan dalam kajian Akademika, jurnal dan pemberitaan media lainnya, perseteruan sosial itu terjadi pula terhadap kepentingan kelompok kapitalis tertentu yang menjadi motor penggerak ekonomi Negara ini, ketika kita memicingkan matapun masih terdengar kabar tentang berbagai kerusuhan antara orang rimba dengan masyarakat atau pemilik modal akibat setumpak hutan yang ingin dimiliki sang kapitalis.

Berbagai kontek kekinian yang terjadi pada kelompok marjinal ini. Apakah Negara sedang bersunggung-sungguh dengan "kitab suci-nya" sendiri? Wallahualam Bissawaf.

0 comments