Manusia kerdil

kompas musafir

Di Kubang Gajah Orang-orang mengartikan “Orang Bunian” saling berbeda, penduduk lokal Ibul mengartikan dengan sosok mahluk halus hidup di hutan memiliki kehidupan tersendiri dan punya kemampuan membawa manusia biasa kedalam kehidupannya, disalah satu camp disini mereka memaknai “Orang Bunian” sebagai orang yang bertubuh pendek kerdil telapak kaki mereka terbalik, seluruh tubuhnya dipenuhi bulu-bulu hitam yang lebat, pengertian yang ini tidak jauh berbeda dengan yang diakui orang-orang sungai penuh di Kerinci Jambi, dalam kehidupannya di rimba merekalah yang mengembalakan Babi hutan, di camp lain orang-orang memaknai “Orang Bunian” seperti sosok manusia biasa, bentuk tubuh maupun tinggi badannya, namun ciri khususnya mereka tidak memiliki lekukan di atas bibirnya, terlepas dari semua pengertian itu, bagiku “Orang Bunian” seperti yang aku saksikan beberapa waktu lalu.

Pagi itu cuaca cerah, langit biru dihias awan gemawan putih berarak, aku dan beberapa kawan lainnya pergi melihat areal perkebunan di perbatasan hutan, perkebunan sawit seluas enam ratus hektar ini berbatasan dengan belantara hutan di setiap ujungnya, kami berangkat ketika mentari beranjak sepenggala dengan mobil double gardan kami menelusuri jalan tanah.

Bulan November hujan sering turun membuat becek jalan di perkebunan, beruntung kendaraan kami dirancang untuk medan berat, melalui beberapa tanjakan dan turunan licin tidak terlalu bermasalah, diujung tikungan berbatasan dengan hutan kami berhenti, pemandangan yang tidak biasa kami temui, sebelumnya sebelah kanan jalan itu merupakan pokok sawit yang sedang berbuah pasir dengan tanahnya yang landai, dalam tatanan perkebunan tempatku bekerja disini merupakan Blok VI, namun hari itu kami tidak melihat sebatangpun pokok sawit tumbuh disana, pokok-pokok sawit itu telah berganti dengan sebuah perkampungan kecil, rumah-rumah mungil beratap rumput benalu dengan cerobong asapnya, berjejer rapi diantara pepohonan, rumput-rumput hijau seperti permadani yang dibentangkan, jalannya berbatu putih berliku seperti ular hingga ke ujung hutan, lama kami tak berkedip mata menyaksikan perubahan yang mendadak itu.

“Ini dia yang disebut kampung Bunian” ucap salah seorang mandor.

"kampung Bunian!! baru sekali ini kudengar", aku tak paham maksud mandor itu. 

Tidak seorangpun dari kami yang meneruskan awal pembicaraan itu, masing-masing sibuk dengan pemandangan nan indah dihadapan mereka, dari atas jalan berbukit kami menyaksikan anak-anak bunian berlari-lari riang di halaman rumah mereka, tawa kecil mereka terdengar riuh damai sekali tampaknya. Kami tak sadar dua orang bertubuh pendek mendekati kami yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Hendak kemana dunsanak!”, terdengar suara sapaan dari arah belakang kami.

“Kami berkeliling memeriksa perkebunan kami”, aku menjawab spontan sapaan itu sambil berusaha menyembunyikan rasa penasaranku.

“Kami mengetahui lebih banyak tentang hutan ini, kalau sanak mau biar kami mengantar”, kata pria dengan topi pandan hijau.

Kawan-kawanku yang lain tak terusik dengan kedatangan dua pria berpakaian aneh itu, salah seorangnya memakai topi dari anyaman rumput dengan hiasan bulu burung dibelakangnya, pria dengan topi daun pandan terlihat lebih muda, bau badan mereka aneh, aku mencoba menyembunyikan rasa penasaranku terhadap penampilan mereka, lalu memberanikan diri bertanya sambil menunjuk kearah perkampungan.

“Kampung apa ini?”,

“Ini kampung kami, kampung orang Bunian kami menjaga kampung ini”, ujar pria bertopi rumput.

“Saya paham bapak-bapak berdua lebih mengetahui banyak tentang hutan ini daripada kami, jika benar bapak bersedia, tidak masalah menghantarkan kami berkeliling”, jawabku membiasakan diri.

Rekanku yang lain tidak banyak tingkah, bahkan tidak berpendapat sedikitpun ketika dua orang Bunian itu ikut serta berkeliling, mobil kembali melaju menyusuri jalan kebun, cuaca tidak terlalu panas tidak pula terlalu dingin, sejuk seperti angin pagi, telah jauh berkendara akhirnya kami sampai di penghujung kebun, kali ini kondisi jalan tanah dipenuhi akar-akar melintang, pohon-pohon besar berjuntai akar pula, burung-burung ramai berbunyi, jalan yang kami lalui kali ini berada dalam kerindangan pohon, cahaya matahari jatuh ke tanah seperti batangan kayu bengkok, membentuk bayangan ranting pohon dan daun.

Sekitar setengah jam perjalanan mobil berhenti di depan sebuah pondok, aku dan beberapa rekan menuju pondok tepi jalan itu, entah apa tujuan kami singgah kepondok itu, jelasnya ketika rekanku yang lain mengingatkan tentang dua orang penghantar kami tadi, aku kembali ke mobil untuk mengajak keduanya singgah ke pondok, tapi aneh, di mobil aku tak menjumpai kedua penghantar tadi, mereka hilang entah kemana, kejadian itu tidak kuberi tahu kepada rekanku, selesai bertamu di pondok itu barulah salah seorang mandor bertanya kemana kemana perginya dua orang berpakaian aneh tadi.

Kepergian dua orang Bunian tadi tidak terlalu menjadi pembicaraan dalam perjalanan pulang, kami kembali ke camp melewati jalan semula, sekitar sepuluh menit perjalanan masih dalam kawasan hutan yang sama kami tidak lagi menjumpai akar-akar pohon yang melintang dijalan, selain aku tidak ada yang menyadari bahwa jalan pulang yang kami tempuh itu tidak lagi sama seperti sediakalanya, padahal kami tidak mengambil jalan lain selain jalan yang tadi, baru menjadi pertanyaan besar ketika kami memasuki areal blok VI kebun, kami tidak lagi menjumpai kampung Orang Bunian di pinggir jalan itu seperti waktu kami memulai perjalanan tadi, kawan-kawan saling bertanya tapi tak satupun yang tahu jawabannya.

Lama aku termenung memikirkan kejadian malam itu, kulihat jam malam menunjukkan pukul dua dinihari, kemudian aku merasa seluruh tubuhku dingin, keringat sebesar bulir jagung tak henti menetes di dahiku, tak sampai sepuluh menit tubuhku bermandi keringat dingin, mimpi bertemu kampung Bunian dan Orang-orang Bunian itu membuat mataku sulit dipejamkan hingga fajar pagi menyingsing.

0 comments