Kearifan lokal Dharmasraya. Episode suku Kubu

kompas musafir
(Kak Roi dan rombongan keluar hutan memenuhi undangan KPU)
Marni dan kelompoknya sudah mendiami hutan di kabupaten Dharmasraya selama turun temurun, sebagai bagian dari komunitas suku kubu Marni dan keluarga besarnya mempunyai ikatan yang erat dengan hutan belantara.

Setiap hari mereka mencari bahan makanan dalam rimba, apapun yang bisa dijadikan makanan, dari jenis hewan seperti babi, biawak, monyet, ular, beruang, landak, trenggiling, bahkan Harimaupun menjadi bagian menu makanan mereka, keahlian mereka dalam berburu tidak ada yang mampu menandingi di Kabupaten Dharmasraya, apalagi jika dibandingkan dengan saya.

Selain hewan buruan Marni dan kelompoknya juga mencari buah-buahan hutan, salah satu yang sangat populer dan paling mereka senangi adalah "Buah jerenang" (Daemonorops draco resin), atau dikenal juga dengan buah rotan, untuk orang seperti saya sulit menemukan buah ini didalam rimba. Buah jerenang memiliki nilai jual yang tinggi dipasaran gelap, bisa dipastikan buah ini salah satu sumber penghasilan terbesar bagi suku kubu di Dharmasraya, suatu ketika pernah saya tanyakan berapa nilai jual buah jerenang, Marni menjawab satu kilonya mencapai harga satu juta rupiah.

Bertahun-tahun kelompok suku kubu hidup dan berkembang didalam rimba Dharmasraya, akibat perkembangan tersebut dari keterangan Marni dan data yang saya peroleh sekarang kelompok Marni sudah terpecah menjadi lima kelompok, perpecahan tersebut salah satunya disebabkan karena konflik internal akibat semakin sempitnya ruang berburu untuk suku Kubu.

Selama lebih kurang satu tahun setengah saya mengamati kehidupan suku Kubu di Dharmasraya, saya temukan sistematika yang menarik dari kebiasaan hidup mereka yang berpindah-pindah, sistematika perpindahan yang memicu pada musim buah-buahan hutan, dan saya sepakat menamakan ini salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh suku Kubu.

Bulan Juli di rimba Dharmasraya curah hujan relatif rendah, pada bulan ini buah jerenang sedang masa berputik, kawasan hutan Dharmasraya yang berbatasan dengan kabupaten Solok selatan telah ramai "di lintasi" anak laki-laki rombongan suku Kubu guna mencari rumpun rotan yang sedang berputik, pada bulan ini "kafilah" suku Kubu yang menemukan rumpun rotan yang berputik biasanya memberi tanda diareal sekitarnya, jika memungkinkan beberapa orang dari mereka akan mendirikan "Sudung" sembari menjaga rumpun rotan dari kelompok lain.

Sementara itu laki-laki yang lain meneruskan perjalanan mencari rumpun yang lain, pencarian itu terkadang sampai memasuki wilayah kabupaten Sawahlunto sijunjung dan kabupaten Solok, manakala ditemukan rumpun terakhir dua atau tiga orang dari mereka juga melakukan hal yang sama yaitu menjaga rumpun rotan hingga musim panen buah pada bulan September, diperkirakan radius pencarian mereka sekitar 150 Km persegi.

Buah jerenang mulai siap petik pada awal atau pertengahan bulan September, mereka yang berada dititik terakhir paling jauh mulai memetik buah jerenang, secara estafet mereka mengikuti jalur kedatangan sampai bertemu lagi dengan rumpun pertama. Proses panen buah jerenang tersebut bisa berlangsung hingga akhir bulan Desember.

Pada periode panen buah jerenang ini biasanya potensi konflik antar kelompok maupun dalam kelompok itu sendiri sangat tinggi, bahkan perpecahan dalam kelompok juga paling banyak terjadi pada musim ini. Bahkan tidak jarang pula demi mendapatkan hasil yang maksimal dua kelompok saling menikahkan putra-putrinya yang sudah cukup umur.

Terlepas dari bermacam konflik yang terjadi pada musim panen buah jerenang, hal yang paling mendasar adalah mereka tidak akan sembarangan menebang dan mencemari kawasan yang ditumbuhi rumpun rotan. Seperti Permata, setiap suku Kubu akan menjaga kawasan tersebut dengan baik dan dengan berbagai cara agar tidak diketahui oleh siapapun selain dari anggota kelompoknya, saya percaya terkadang beberapa dari mereka menakuti saya untuk tidak pergi ke kawasan yang dirahasiakan itu dengan menceritakan keganasan hewan buas yang terdapat didalamnya.

Bersambung ...

0 comments