Sejarah Baru Dharmasraya

kompas musafir
Kehidupan manusia pedalaman sering kali menjadi perhatian khusus bagi dunia internasional, salah satunya suku pedalaman yang hidup di seputaran kawasan rimba kabupaten Dharmasraya, dialah suku Kubu atau dikenal juga dengan Suku Anak Dalam. 

Penduduk dikabupaten Dharmasraya lebih akrab menyebutnya dengan "Orang Kubu", untuk selanjutnya dalam pembahasan topik kali ini di tulis juga dengan nama "Orang Kubu". 

Tidak banyak catatan yang menjelaskan asal usul kehidupan "Orang Kubu", namun keberadaannya ditengah masyarakat lebih dominan mengenai sikap diskriminatif, sehingga terkadang sikap tersebut seakan menjadikan Orang Kubu sesuatu yang harus dijauhi atau bahkan lebih ekstrim lagi harus di usir dari perkampungan. 

Sebagai subjek yang memiliki jarak pemisah dengan masyarakat, Orang Kubu punya ketergantungan yang sangat tinggi terhadap hutan dan hasil hutan, apalagi dalam kehidupan Orang kubu mereka tidak mengenal istilah kepemilikan tanah, sebab menurut mereka hutan dan hasilnya adalah milik mereka, milik bersama orang-orang di suku Kubu. 

Pada tanggal 9 April 2014, sejarah pertama tercatat di kabupaten Dharmasraya provinsi Sumatera Barat. suku Kubu mulai membuka diri dengan urusan administratif kenegaraan, yaitu mereka ikut dalam pemilihan calon legislatif. Sebanyak enam belas orang dari suku Kubu, pada pukul sepuluh mendatangi TPS 9 untuk ikut mencoblos memilih wakil rakyat yang akan menduduki kursi legislatif, peristiwa langka tersebut di saksikan pula oleh pucuk pimpina kabupaten Dharmasraya Ir. H Adi Gunawan, selaku Bupati kabupaten Dharmasraya. 

Orang Kubu yang terlibat dalam pemilihan itu sangat terkendala dengan membaca, sehingga petugas agak sedikit direpotkan dalam proses tersebut. Seperti dijelaskan oleh Bupati Dharmasraya Adi Gunawan, TPS (Tempat Pemungutan Suara) 9 merupakan TPS khusus yang disediakan oleh KPU, dan TPS tersebut berada ditepi pinggiran hutan sehingga mudah dijangkau oleh suku Kubu. Kegiatan tersebut berlangsung hingga pukul dua belas siang, selesai mencoblos rombongan Orang kubu kembali masuk hutan. Yusup salah seorang dari suku Kubu mengaku, bahwa mereka berharap proses seperti ini akan dilanjutkan lagi pada pemilihan umum berikutnya.

Manusia kerdil

kompas musafir

Di Kubang Gajah Orang-orang mengartikan “Orang Bunian” saling berbeda, penduduk lokal Ibul mengartikan dengan sosok mahluk halus hidup di hutan memiliki kehidupan tersendiri dan punya kemampuan membawa manusia biasa kedalam kehidupannya, disalah satu camp disini mereka memaknai “Orang Bunian” sebagai orang yang bertubuh pendek kerdil telapak kaki mereka terbalik, seluruh tubuhnya dipenuhi bulu-bulu hitam yang lebat, pengertian yang ini tidak jauh berbeda dengan yang diakui orang-orang sungai penuh di Kerinci Jambi, dalam kehidupannya di rimba merekalah yang mengembalakan Babi hutan, di camp lain orang-orang memaknai “Orang Bunian” seperti sosok manusia biasa, bentuk tubuh maupun tinggi badannya, namun ciri khususnya mereka tidak memiliki lekukan di atas bibirnya, terlepas dari semua pengertian itu, bagiku “Orang Bunian” seperti yang aku saksikan beberapa waktu lalu.

Pagi itu cuaca cerah, langit biru dihias awan gemawan putih berarak, aku dan beberapa kawan lainnya pergi melihat areal perkebunan di perbatasan hutan, perkebunan sawit seluas enam ratus hektar ini berbatasan dengan belantara hutan di setiap ujungnya, kami berangkat ketika mentari beranjak sepenggala dengan mobil double gardan kami menelusuri jalan tanah.

Bulan November hujan sering turun membuat becek jalan di perkebunan, beruntung kendaraan kami dirancang untuk medan berat, melalui beberapa tanjakan dan turunan licin tidak terlalu bermasalah, diujung tikungan berbatasan dengan hutan kami berhenti, pemandangan yang tidak biasa kami temui, sebelumnya sebelah kanan jalan itu merupakan pokok sawit yang sedang berbuah pasir dengan tanahnya yang landai, dalam tatanan perkebunan tempatku bekerja disini merupakan Blok VI, namun hari itu kami tidak melihat sebatangpun pokok sawit tumbuh disana, pokok-pokok sawit itu telah berganti dengan sebuah perkampungan kecil, rumah-rumah mungil beratap rumput benalu dengan cerobong asapnya, berjejer rapi diantara pepohonan, rumput-rumput hijau seperti permadani yang dibentangkan, jalannya berbatu putih berliku seperti ular hingga ke ujung hutan, lama kami tak berkedip mata menyaksikan perubahan yang mendadak itu.

“Ini dia yang disebut kampung Bunian” ucap salah seorang mandor.

"kampung Bunian!! baru sekali ini kudengar", aku tak paham maksud mandor itu. 

Tidak seorangpun dari kami yang meneruskan awal pembicaraan itu, masing-masing sibuk dengan pemandangan nan indah dihadapan mereka, dari atas jalan berbukit kami menyaksikan anak-anak bunian berlari-lari riang di halaman rumah mereka, tawa kecil mereka terdengar riuh damai sekali tampaknya. Kami tak sadar dua orang bertubuh pendek mendekati kami yang sedang hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Hendak kemana dunsanak!”, terdengar suara sapaan dari arah belakang kami.

“Kami berkeliling memeriksa perkebunan kami”, aku menjawab spontan sapaan itu sambil berusaha menyembunyikan rasa penasaranku.

“Kami mengetahui lebih banyak tentang hutan ini, kalau sanak mau biar kami mengantar”, kata pria dengan topi pandan hijau.

Kawan-kawanku yang lain tak terusik dengan kedatangan dua pria berpakaian aneh itu, salah seorangnya memakai topi dari anyaman rumput dengan hiasan bulu burung dibelakangnya, pria dengan topi daun pandan terlihat lebih muda, bau badan mereka aneh, aku mencoba menyembunyikan rasa penasaranku terhadap penampilan mereka, lalu memberanikan diri bertanya sambil menunjuk kearah perkampungan.

“Kampung apa ini?”,

“Ini kampung kami, kampung orang Bunian kami menjaga kampung ini”, ujar pria bertopi rumput.

“Saya paham bapak-bapak berdua lebih mengetahui banyak tentang hutan ini daripada kami, jika benar bapak bersedia, tidak masalah menghantarkan kami berkeliling”, jawabku membiasakan diri.

Rekanku yang lain tidak banyak tingkah, bahkan tidak berpendapat sedikitpun ketika dua orang Bunian itu ikut serta berkeliling, mobil kembali melaju menyusuri jalan kebun, cuaca tidak terlalu panas tidak pula terlalu dingin, sejuk seperti angin pagi, telah jauh berkendara akhirnya kami sampai di penghujung kebun, kali ini kondisi jalan tanah dipenuhi akar-akar melintang, pohon-pohon besar berjuntai akar pula, burung-burung ramai berbunyi, jalan yang kami lalui kali ini berada dalam kerindangan pohon, cahaya matahari jatuh ke tanah seperti batangan kayu bengkok, membentuk bayangan ranting pohon dan daun.

Sekitar setengah jam perjalanan mobil berhenti di depan sebuah pondok, aku dan beberapa rekan menuju pondok tepi jalan itu, entah apa tujuan kami singgah kepondok itu, jelasnya ketika rekanku yang lain mengingatkan tentang dua orang penghantar kami tadi, aku kembali ke mobil untuk mengajak keduanya singgah ke pondok, tapi aneh, di mobil aku tak menjumpai kedua penghantar tadi, mereka hilang entah kemana, kejadian itu tidak kuberi tahu kepada rekanku, selesai bertamu di pondok itu barulah salah seorang mandor bertanya kemana kemana perginya dua orang berpakaian aneh tadi.

Kepergian dua orang Bunian tadi tidak terlalu menjadi pembicaraan dalam perjalanan pulang, kami kembali ke camp melewati jalan semula, sekitar sepuluh menit perjalanan masih dalam kawasan hutan yang sama kami tidak lagi menjumpai akar-akar pohon yang melintang dijalan, selain aku tidak ada yang menyadari bahwa jalan pulang yang kami tempuh itu tidak lagi sama seperti sediakalanya, padahal kami tidak mengambil jalan lain selain jalan yang tadi, baru menjadi pertanyaan besar ketika kami memasuki areal blok VI kebun, kami tidak lagi menjumpai kampung Orang Bunian di pinggir jalan itu seperti waktu kami memulai perjalanan tadi, kawan-kawan saling bertanya tapi tak satupun yang tahu jawabannya.

Lama aku termenung memikirkan kejadian malam itu, kulihat jam malam menunjukkan pukul dua dinihari, kemudian aku merasa seluruh tubuhku dingin, keringat sebesar bulir jagung tak henti menetes di dahiku, tak sampai sepuluh menit tubuhku bermandi keringat dingin, mimpi bertemu kampung Bunian dan Orang-orang Bunian itu membuat mataku sulit dipejamkan hingga fajar pagi menyingsing.

Kearifan lokal Dharmasraya. Episode suku Kubu

kompas musafir
(Kak Roi dan rombongan keluar hutan memenuhi undangan KPU)
Marni dan kelompoknya sudah mendiami hutan di kabupaten Dharmasraya selama turun temurun, sebagai bagian dari komunitas suku kubu Marni dan keluarga besarnya mempunyai ikatan yang erat dengan hutan belantara.

Setiap hari mereka mencari bahan makanan dalam rimba, apapun yang bisa dijadikan makanan, dari jenis hewan seperti babi, biawak, monyet, ular, beruang, landak, trenggiling, bahkan Harimaupun menjadi bagian menu makanan mereka, keahlian mereka dalam berburu tidak ada yang mampu menandingi di Kabupaten Dharmasraya, apalagi jika dibandingkan dengan saya.

Selain hewan buruan Marni dan kelompoknya juga mencari buah-buahan hutan, salah satu yang sangat populer dan paling mereka senangi adalah "Buah jerenang" (Daemonorops draco resin), atau dikenal juga dengan buah rotan, untuk orang seperti saya sulit menemukan buah ini didalam rimba. Buah jerenang memiliki nilai jual yang tinggi dipasaran gelap, bisa dipastikan buah ini salah satu sumber penghasilan terbesar bagi suku kubu di Dharmasraya, suatu ketika pernah saya tanyakan berapa nilai jual buah jerenang, Marni menjawab satu kilonya mencapai harga satu juta rupiah.

Bertahun-tahun kelompok suku kubu hidup dan berkembang didalam rimba Dharmasraya, akibat perkembangan tersebut dari keterangan Marni dan data yang saya peroleh sekarang kelompok Marni sudah terpecah menjadi lima kelompok, perpecahan tersebut salah satunya disebabkan karena konflik internal akibat semakin sempitnya ruang berburu untuk suku Kubu.

Selama lebih kurang satu tahun setengah saya mengamati kehidupan suku Kubu di Dharmasraya, saya temukan sistematika yang menarik dari kebiasaan hidup mereka yang berpindah-pindah, sistematika perpindahan yang memicu pada musim buah-buahan hutan, dan saya sepakat menamakan ini salah satu kearifan lokal yang dimiliki oleh suku Kubu.

Bulan Juli di rimba Dharmasraya curah hujan relatif rendah, pada bulan ini buah jerenang sedang masa berputik, kawasan hutan Dharmasraya yang berbatasan dengan kabupaten Solok selatan telah ramai "di lintasi" anak laki-laki rombongan suku Kubu guna mencari rumpun rotan yang sedang berputik, pada bulan ini "kafilah" suku Kubu yang menemukan rumpun rotan yang berputik biasanya memberi tanda diareal sekitarnya, jika memungkinkan beberapa orang dari mereka akan mendirikan "Sudung" sembari menjaga rumpun rotan dari kelompok lain.

Sementara itu laki-laki yang lain meneruskan perjalanan mencari rumpun yang lain, pencarian itu terkadang sampai memasuki wilayah kabupaten Sawahlunto sijunjung dan kabupaten Solok, manakala ditemukan rumpun terakhir dua atau tiga orang dari mereka juga melakukan hal yang sama yaitu menjaga rumpun rotan hingga musim panen buah pada bulan September, diperkirakan radius pencarian mereka sekitar 150 Km persegi.

Buah jerenang mulai siap petik pada awal atau pertengahan bulan September, mereka yang berada dititik terakhir paling jauh mulai memetik buah jerenang, secara estafet mereka mengikuti jalur kedatangan sampai bertemu lagi dengan rumpun pertama. Proses panen buah jerenang tersebut bisa berlangsung hingga akhir bulan Desember.

Pada periode panen buah jerenang ini biasanya potensi konflik antar kelompok maupun dalam kelompok itu sendiri sangat tinggi, bahkan perpecahan dalam kelompok juga paling banyak terjadi pada musim ini. Bahkan tidak jarang pula demi mendapatkan hasil yang maksimal dua kelompok saling menikahkan putra-putrinya yang sudah cukup umur.

Terlepas dari bermacam konflik yang terjadi pada musim panen buah jerenang, hal yang paling mendasar adalah mereka tidak akan sembarangan menebang dan mencemari kawasan yang ditumbuhi rumpun rotan. Seperti Permata, setiap suku Kubu akan menjaga kawasan tersebut dengan baik dan dengan berbagai cara agar tidak diketahui oleh siapapun selain dari anggota kelompoknya, saya percaya terkadang beberapa dari mereka menakuti saya untuk tidak pergi ke kawasan yang dirahasiakan itu dengan menceritakan keganasan hewan buas yang terdapat didalamnya.

Bersambung ...

Suku kubu ikut pemilu

kompas musafir

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Dharmasraya, SAD (Suku Anak Dalam) yang hidup dan menetap di wilayah sekitar hutan kabupaten dharmasraya, memenuhi hak pilih dalam pemilihan calon legislatif. dari pantauan dilapangan sekitar 30 orang komunitas Suku Anak dalam (SAD) memenuhi TPS 9, berlokasi di kecamatan IX koto kenagarian Banai, rombongan suku anak dalam yang diketuai oleh bapak penyiram bersama istri dan anak-anaknya datang ke lokasi TPS sekitar pukul 11.00 WIB, lokasi TPS disesuaikan sedemikian rupa oleh PPS sehingga TPS 9 khusus untuk komunitas suku anak dalam diadakan di pinggiran hutan yang mudah diakses oleh komunitas suku anak dalam, dari 30 orang rombongan suku anak dalam hanya sebanyak 16 orang yang berhak melakukan pemilihan, mereka tersebut adalah pria dewasa dan perempuan dewasa.

Usup (40) ketika ditanya tentang proses pemilihan ini, mengaku ini adalah pertama kalinya mereka dari komunitas suku anak dalam melakukan pencoblosan dalam pemilihan umum, kesulitan yang dihadapi yusup dalam melakukan pemilihan karena dia tidak tahu membaca, dalam keterbatasan tersebut rombongan suku anak dalam tetap percaya diri dalam menentukan pilihannya.

''Ini pertama kalinya kami dari "orang dalam" memilih dalam pemilihan kegiatan pemilihan umum, harapan kami ini adalah percobaan mudah-mudahan untuk maso yang akan datang kami diberi kesempatan lagi untuk melakukan pemilihan umum'', jelas Usup.

Bupati Dharmasraya Adi gunawan berkesempatan menyaksikan proses pemilihan oleh komunitas suku anak dalam, merasa bangga untuk pertama kalinya dalam sejarah demokrasi nasional di kabupaten dharmasraya komunitas suku terpencil "suku anak dalam" mendapat hak pilih, beginilah seharusnya demokrasi, kata Adi gunawan, tidak hanya untuk masyarakat yang dikenal sudah memiliki peradaban, demokrasi juga harus dirasakan oleh orang-orang pedalaman yang notabenenya hidup sederhana dan sepenuhnya bergantung hidup pada hasil hutan.

"Ini adalah TPS khusus untuk komunitas suku anak dalam, untuk kedepan secara bertahap kita akan terus lakukan pembinaan terhadap suku anak dalam, bagi saya ini sesuatu yang luar biasa yang dilakukan komunitas suku anak dalam, kita tahu hingga kini mereka hidup nomaden dan pada kesempatan ini mereka bersedia melakukan salah satu dari bagian demokrasi, yaitu menentukan pilihan mereka dalam pemilihan umum, untuk pemilihan berikutnya mereka juga akan diikut sertakan, pokoknya ini adalah sesuatu yang positif dari pendampingan yang kita lakukan selama ini", Ungkap Adi gunawan.

Karena hampir semua pemilih dari suku anak dalam kesulitan dalam membaca, terlihat panitia pemungutan suara agak sedikit kerepotan dalam membimbing mereka, seperti bagaimana cara menusukan paku di kertas suara, kemudian memasukan surat suara sesuai dengan nama kotak suara. Meski agak kesulitan terlihat panitia TPS dengan sabar membimbing rombongan suku anak dalam satu persatu dalam proses pemilihan.

Seluruh proses pemungutan suara khusus untuk komunitas suku anak dalam tersebut berlangsung hingga pukul 13.00 WIB, masyarakat disekitar nagari Banai juga ikut antusias, terlihat cukup ramai juga masyarakat menyaksikan ''suku anak dalam'' menentukan pilihan dalam pemilihan calon legislatif tersebut.