Bagian 1 - Perjalanan Nasib Harimau Sumatera

kompas musafir
Hari itu Senin sore 6 Mei 2013 di Bukit Gading, Bujang sengaja pulang memilih jalan pinggiran hutan sepadan kebun karetnya, jalan itu biasanya dilalui orang kampung yang hendak mencari manau ke hutan, Bujang memilih jalan itu karena ingin melihat jerat Babi yang sudah dipasangnya lima hari lalu, sambil mengayun parang menebas semak-semak setinggi lutut Bujang bersiul mengisi jalan pulanya.
Kawasan Bukit Gading tempat Bujang bermukim berada dalam kecamatan Koto Besar, sebuah perkampungan yang memiliki hutan sedikit luas dibanding kampung lain di kabupaten Dharmasraya, dalam sejarah Minang Kabau Bukit Gading dikenal juga dengan Bukit Tambun Tulang, dahulu kala Bukit Gading merupakan salah satu kampung yang menjadi pusat persinggahan dan berniaga bagi perahu dagang anak-anak sungai Batang Hari, tapi itu dulu saat ini rerata penduduknya berprofesi sebagai petani karet, Bujang salah satu “penganut” profesi tersebut, satu dua ada juga penduduk kampung yang bekerja di kantor pemerintahan kecamatan setempat dan pada umumnya mereka adalah sarjana-sarjana muda yang baru selesai sekolah, bekerja sebagai tenaga sukarela (Suka disuruh-suruh rela tidak digaji) dikantor tersebut.
Sekira dua jam lebih sudah Bujang berjalan di hutan, semak-semak dibelakang Bujang rebah akibat tebasan parangnya, langkahnya semakin mendekati tempat jerat Babi yang dipasangnya, dari jarak  itu bujang mendengar suara lenguhan aneh, menurutnya suara itu bukan suara lenguhan Babi, dia mempercepat langkah.
“Mulanya saya yakin itu bukan suara lenguhan babi”, jelas Bujang. keyakinan Bujang semakin kuat setelah beberapa batang semak disingkirkan dengan parang, ternyata benar Bujang kaget didepannya tampak seekor Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumatrae) sedang terbaring miring melenguh menahan sakit, terlihat kaki kiri bagian belakangnya dililit kawat Sling dan mengeluarkan banyak darah.
“Saking takutnya saya mundur beberapa langkah, tak percaya dengan yang saya lihat”, kata Bujang sambil menurunkan lengan bajunya. Lebih kurang satu jam Bujang berdiri melongo tidak tahu harus berbuat apa, sementara itu si “Raja Hutan” semakin kuat merintih manakala didekatnya telah hadir sosok manusia, Bujang tetap saja berdiri seperti patung, karena lenguhan Harimau itu semakin keras Bujang memberanikan diri agak dekat, sekarang semakin jelas olehnya seekor Harimau betina dengan kaki belakang dilumuri darah akibat kawat sling.
“Seperti menguap, suara Harimau itu berat tapi tidak keras, kadang dia juga mengoek seperti anak kerbau”, kata Bujang sambil menghisap dalam kretek Joget yang sedari tadi disulutnya. Menit-menit berikutnya Bujang juga tidak tahu harus berbuat apa, pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan melaporkan “Temuan” tersebut kepada tetua kampung.
“Harimau itu, pak. Tidak mungkin atas dasar kasihan saja saya melepas kawat sling yang mengikat kakinya, konyol namanya itu, bagaimanapun dia hewan buas”, jelas Bujang dengan bahasa indonesia yang dipaksakan.
Malam itu kampung Bukit Gading sibuk, dikedai-kedai kopi pembicaraan tak beranjak dari topik “Temuan” Bujang di dalam perangkapnya yang salah sasaran, demikian juga dengan para ibu, mereka sedari Magrib sudah berkumpul di rumah Bujang.
Erot istri Bujang dan mertuanya terlihat sibuk melayani obrolan dan pertanyaan para ibu tentang seputaran Harimau betina yang terkena jerat suaminya, lama-kelamaan cerita para ibu itu berujung ke mitos-mitos seputaran Harimau dan “penjaga kampung” lainnya.
Rumah Hasyim tetua adat juga tidak kalah sibuknya, pemuka masyarakat dan pemuda berkumpul membicarakan ”Temuan” Bujang, seluruh ruang tengah sesak oleh pemuda. Edi salah seorang tokoh pemuda mengusulkan agar harimau tersebut dilepaskan saja dengan syarat harus ada dua puluh laki-laki yang melakukannya.
“Harimau itu jelas tidak akan bisa dilepaskan oleh dua atau tiga orang laki-laki saja, maka itu beberapa orang mengikat dengan tambang lalu dipegang kuat dan yang lain melepaskan kawat sling yang mengikat kakinya”, terang Edi menjelaskan teknis pertolongan, sebagian pemuda ada yang mengangguk. Lukman, yang hari-harinya banyak dihabiskan mencari Manau di hutan mendukung pendapat Edi dengan menambahkan pendapatnya.
“Tidak masalah Harimau itu diselamatkan dengan cara Edi, tapi saya minta kejadian ini jangan sampai diketahui oleh pemerintah, bisa-bisa kita yang tertuduh menangkap hewan yang dilindungi negara ini, berurusan pula kita dengan penjara”, terang Lukman. Suasana semakin ramai, pemuda-pemuda lain gaduh dengan komentar Lukman.
“Mana mungkin kita bisa menjadikan peristiwa ini rahasia”, jelas seorang pemuda yang tidak tampak batang hidungnya. Keriuhan dirumah itu ditengahi Hasyim tetua adat yang disegani. “Bapak-bapak sekalian, memang sebaiknya kita memberitahu pemerintah, jika tidak kerja kita juga akan sia-sia, toh luka dikaki Harimau itu juga harus disembuhkan, bisa kita bayangkan sekiranya kita melepas Harimau luka ke hutan, dia juga akan mengamuk, kalau sudah begitu kita tidak juga kita akan merasa aman menderes karet atau mencari Manau di hutan”, terang Hasyim sambil mengelus jenggotnya.
“Kalau kita serahkan ke pemerintah setidaknya luka di kaki Harimau itu bisa disembuhkan dengan bantuan obat-obatan”, lanjut Hasyim.
Bujang selaku yang punya perangkap dan penemu Harimau itu ternyata keberatan. “Saya tidak setuju harimau itu diserahkan ke pemerintah, nanti orang-orang dinas pemerintahan itu menjualnya, Harimau itu penjaga kampung kita, toh bapak-bapak tahu selama ini kita tidak pernah juga diganggu Harimau, bahkan Harimau lebih banyak membantu kita membasmi hama Babi dan menolong orang-orang kampung yang tersesat di hutan, pokoknya saya tidak setuju”, bentak Bujang geram.
Sesaat suasana di rumah tetua adat hening, penduduk kampung Bukit Gading sedikit banyaknya memahami kelakuan pejabat-pejabat pemerintahan di kabupaten Dharmasraya, dan ketakutan Bujang itu bisa saja benar.
.Mitos tentang Harimau penyelamat orang-orang yang tersesat di hutan tidak bisa disepelekan, hingga kini orang-orang kampung khususnya pencari Manau di hutan sering ditolong Harimau jika tersesat di hutan, pertolongan itu selalu terjadi diwaktu Magrib ketika penebang Manau kebingungan mencari pohon jejak, dalam keadaan begitu tidak lama Harimau muncul, belang yang terdapat di sebatang badan Harimau selalu terlihat menyala diwaktu malam, kegelapan Magrib belum akan memudarkan cahaya belang yang terdapat di tubuh Harimau, jadi siapapun yang tersesat di hutan tinggal mengikuti kemana arah cahaya belang itu, dan tak lama kemudian mereka yang tersesat akan menemukan jalan setapak menuju kampung.    Begitu cara Harimau menolong orang-orang yang tersesat di hutan.

Contiuned ... bagian 2

0 comments