Spionase di Rumah Peduli

kompas musafir
(Ilustrasi)

Orang-orang dari berbagai penjuru kampung biasanya datang kerumah itu, tidak kutahu pasti kapan mulanya rumah itu menjadi persinggahan atau tempat pengaduan banyak orang, tetangga sekitarku menamakan rumah itu rumah peduli, karena aku orang baru dikomplek ini aku ikut-ikutan menamakannya rumah peduli, orang-orang yang bertemu denganku juga menamakan rumah itu rumah peduli, aku lihat bermacam model orang yang datang kerumah peduli dan kebanyakan mereka datang dengan air muka yang datar.

Depan rumah peduli ada sebuah bangku panjang, kala hari menjelang senja biasanya bangku itu ramai diduduki anak-anak muda, rerata dari mereka mahasiswa, namun banyak pula pemuda-pemuda yang tinggal disekitaran komplek rumah peduli, dibalik cahaya senja yang merah terdengar tawa canda mereka sedang bergurau-senda, hal yang paling jarang aku jumpai kala para mahasiswa dan pemuda itu berkumpul di bangku panjang adalah perempuan, sering kuperhatikan jika mereka berkumpul, ramai sekali tampaknya rumah peduli, dari kabar yang kudengar rumah peduli itu disediakan atas kemurahan hati seorang pak Guru, ada orang yang bermurah hati menyediakan tempat berkumpul untuk para generasi muda seperti di rumah peduli pada zaman nan serba kapilatis sekarang ini merupakan suatu yang langka, semoga pak Guru itu dimurahkan rezekinya oleh Allah SWT.

Suatu kali aku menemani seorang kawan kerumah peduli, sebut saja namanya Toni, keluarga toni sedang berselisih paham dengan kerabat jauhnya soal kepemilikan tanah, demi menjaga privasi aku tidak turut mendengar persoalan yang tengah dituturkan Toni kepada salah seorang anak muda di rumah peduli, aku sendiri juga tidak mengenal anak muda yang menangani keluhan Toni, selesai kunjungan Toni bercerita padaku bahwa anak-anak muda yang berkumpul di rumah peduli akan ikut menjadi penengah dalam persoalannya, sampai persoalan kepemilikan tanah tersebut selesai dengan bijaksana.

Kalau tidak dengan Toni kawanku itu aku tidak berani mendekati rumah peduli, aku merasakan sesuatu yang aneh dan sulit untuk kubahasakan, jadilah aku pengamat rumah peduli dari jauh saja. Di dinding depan rumah peduli ada sebuah lukisan, bentuknya seperti hati dengan motif berjabat tangan retak, pandanganku yang belum begitu luas kurang bisa menangkap maksud yang disampaikan lukisan berupa logo tersebut, kunikmati saja lukisan itu sebagai suatu karya seni.

Pagi itu hari kamis, gerimis turun cukup lama, sebelum berangkat dinas sembari menunggu gerimis reda, aku menyeruput secangkir kopi sambil terus pandangi rumah peduli, hal yang tidak bisa kupungkiri entah mengapa setiap aku duduk di teras depan rumah kepala dan mataku selalu menoleh kerumah peduli, dalam keasikanku memandang tiba-tiba empat buah sepeda motor memasuki halaman rumah peduli, pengendara motor kali ini lebih aneh lagi menurutku, pakaian mereka tampak kumal dan tidak terurus, tiap motor dinaiki dua orang, mereka tidak memakai alas kaki, masing-masing penumpang aku lihat menyandang senapan laras panjang, bermacam kalimat mulai bermain dibenakku, terlebih ketika melihat senapan laras panjang yang disandang orang-orang kumal tadi, kupantau terus pergerakan orang-orang kumal itu, tampak pula disetiap sepeda motor itu bungkusan berbalut kain, entah apa isinya, rasa penasaranku menjadi-jadi, ingin aku melihat dari dekat tapi takut pula melihat tampang orang-orang kumal itu, kubungkam saja rasa keingintahuanku.

Belum habis kopi pagiku, tak lama kemudian Nissan March dan opel blazer memasuki halaman rumah peduli, semakin menarik, kontras sekali aku melihat tamu-tamu yang datang kerumah peduli pagi itu, karena aku tak berani melihat dari dekat apalagi memasuki rumah peduli, jadilah angan-anganku menerawang bercerita tentang sekelompok orang kumal dan beberapa orang berpakaian rapi yang menjadi tamu dirumah peduli pagi itu. Apa yang sedang dilakukan orang-orang itu, dimana duduknya orang-orang berpakaian rapi itu, dimana pula duduknya sekelompok orang-orang kumal tadi, apakah orang-orang berpakaian rapi itu tidak jijik satu ruangan dengan orang-orang berpakaian lusuh dan kumal itu, bermacam kalimat bertabur dibenakku, hingga dering telepon dari komandan menghentikan angan-anganku, setelah mendapat dua patah kata yang tidak sedap dari komandan aku langsung meluncur dengan sepeda motor tanpa memikirkan lagi gerimis yang sedang turun.

Tiba dikantor sekitar pukul sembilan lewat tiga puluh, rupanya komandan sudah menanti di pintu gerbang, setelah memberi hormat aku diperintahkan naik turun duaratus kali, berkeringat juga akhirnya dipagi nan gerimis itu, perintah komandan tidak cukup sampai disitu saja selesai turun naik duaratus kali aku diperintahkan jalan jongkok sampai ke gardu piket, karena itu perintah harus aku lakukan meski harus menanggung muka merah dihadapan junior-juniorku.

Sore itu aku pulang bareng Toni, pemikiranku tentang tamu-tamu dirumah peduli pagi tadi tidak juga hilang, terutama orang-orang yang berpakaian kumal dan menyandang senapan dipundaknya, tak tahan akhirnya kutanyakan ke Toni, siapa orang-orang berpakaian kumal itu, bagaimana pula mereka bisa begitu leluasa menyandang senapan, semantara mereka bukan aparat keamanan seperti kami, dalam perjalanan pulang Toni menjelaskan panjang lebar tentang orang-orang kumal itu.

“Orang-orang kumal, tidak memakai alas kaki  dan menyandang senapan laras panjang itu adalah orang kubu, orang minang disini menamakan mereka dengan sebutan orang kubu, hidup terpencil dihutan, kalau di Jambi mereka di sebut juga orang rimba, orang kubu, atau suku anak dalam, mereka hidup dan menggantung kehidupan mereka sepenuhnya dari hasil hutan, mereka tidak mengenyam pendidikan resmi seperti orang luar kebanyakan, bahkan orang kubu itu cenderung terdikriminasi oleh orang kampung, atas dasar itu pulalah sulit untuk memberikan pemahaman kepada mereka tentang aturan penggunaan senjata atau tentang aturan lainnya yang telah di tetapkan negara”.

“Lalu apa hubungan mereka dengan anak-anak muda di rumah peduli itu?”

“Kalau itu saya juga kurang tau banyak, tapi biasanya tiap minggu orang-orang kubu itu sering berkunjung, saya juga sering melihat anak-anak muda di rumah peduli itu mengantarkan orang-orang itu berobat ke puskesmas atau ke rumah sakit, kelihatannya mereka tulus dan akrab berhubungan dengan orang kubu, padahal tidak banyak orang-orang kampung disini tidak mau berhubungan dengan orang kubu, jangankan berkawan mendekati mereka saja orang kebanyakan jijik karena mereka bau, tapi faktanya anak-anak muda itu nyaman-nyaman aja kelihatannya”, terang Toni.

“Oh iya.. aku juga pernah mendengar sedikit cerita tentang orang kubu atau orang rimba itu”.

Cerita Toni dalam perjalanan pulang kami sedikit menambah pemahamanku tentang anak-anak muda yang suka berkumpul di rumah peduli, harus aku akui mereka berbeda dari anak-anak muda kebanyakan, jadinya aku merasa iri juga, mereka diusia yang cukup muda sudi menyisakan waktu berbuat kebaikan untuk sekelompok suku terpencil, kadang aku berfikir tugas tambahan yang diberikan komandan padaku tentang anak-anak muda itu terlalu berlebihan, toh mereka hanyalah anak-anak muda yang membaktikan diri menolong sekelompok orang yang sering mendapat perlakuan diskriminatif dari orang luar.

Hampir saja aku lupa, oh ya, namaku Abdullah Surbekti, aku baru pindah tugas ke kabupaten ini, mohon doa restunya semoga aku diberikan kekuatan dalam melaksanakan tugas negara, melayani masyarakat dan memperjuangkan keadilan, meski doa seperti itu saat ini sulit ditujukan kepada institusi kami, tapi percayalah tidak semua padi yang disemai itu menghasilkan bulir hampa, masih ada benih-benih kebaikan dalam nurani kami yang terdalam.


Catatan seorang pengabdi Negara.

0 comments