Dragon's Blood On Dharmasraya

Jernang (Daemonorops draco resin) atau dikenal juga dengan Buah jernang, di pasaran internasional di kenal pula dengan istilah Dragon’s Blood, dan berbagai istilah lainnya, buah jernang diperoleh dari jenis tanaman Rotan, buah ini tumbuh liar di belantara rimba, getah buah jernang merupakan salah satu bahan dasar pewarna dengan kualitas yang sangat baik, untuk alasan itu pula getah jernang dibandrol dengan harga yang cukup mahal di pasaran internasional, belum banyak laporan yang menyatakan buah ini atau jenis rotan yang menghasilkan buah jernang ini di budidayakan secara luas oleh masyarakat. Di Dharmasraya getah jernang di perkenalkan oleh orang-orang dari suku Kubu, hingga populer pula di kalangan Orang Terang.




Pola hidup suku kubu yang sangat tergantung dengan hasil hutan menjadikan buah jernang layaknya emas merah, mereka menjaga kawasan-kawasan yang ditumbuhi oleh rotan penghasil buah jernang dengan sangat ketat. Jernang bermusim sekali setahun, pada bulan awal tahun jenis rotan penghasil jernang mulai berputik, biasanya suku kubu akan panen buah jernang pada pertengahan tahun. Seperti diterangkan Isa salah seorang dari kelompok suku Kubu, saat ini buah jernang juga di cari orang terang karena harganya yang cukup tinggi di pasaran, Toke (pedagang pengumpul) pengumpul jernang menghargai setiap gram dalam harga yang bervariasi, dalam istilah orang kubu samato atau duomato, samato getah jernang dihargai seratus ribu rupiah, jika sampai sepuluhmato (senilai 1 kg) getah jernang di hargai satu juta sampai satu juta duaratus ribu rupiah, bervariasi tergantung harga yang ditetapkan Toke, jelas Isa.

kompas musafir
Di Indonesia darah naga (getah jernang) dipasarkan secara gelap, tidak ada aturan yang jelas tentang harga getah jernang ketika dipasarkan ditingkat internasional, menurut pengakuan salah seorang penjual getah jernang lintas negara yang tidak bersedia disebutkan namanya, mereka menjual “darah naga” sekilonya lima juta rupiah dipasar internasional, harga ini juga relatif berubah-ubah, China merupakan salah satu nagara langganan mereka, bahkan tidak jarang pula pedagang dari India meminta “darah naga” dalam jumlah banyak, dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Buah jernang sangat berharga oleh Suku kubu, dari perkembangan yang terjadi di Dharmasraya, dua kelompok suku kubu yakni kelompok Bujang Bagak dan kelompok Isa pada bulan November 2012 lalu melakukan aksi unjuk rasa ke PT.BRM, salah satu alasannya karena ladang Jernang mereka telah ditumbang habis oleh PT.BRM, dalam aksi tersebut dua kelompok suku kubu meminta ganti rugi.

Orang-orang suku kubu mengolah Buah jernang menjadi getah jernang dengan proses yang sangat sederhana, menggunakan sebuah keranjang terbuat dari anyaman rotan yang mereka sebut Mbung atau Ambung, dalam ambung buah jernang di ekstrak dengan cara dipukul-pukul, getah yang keluar ditampung dalam wadah plastik kemudian dijemur dibawah terik matahari.

literatur taksonomi tumbuhan menerangkan, di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan baku lipstick, serbuk untuk gigi, penyakit asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak kegunaan lainnya.

Dari sekian banyak kegunaan tersebut membuat “Darah Naga” dibandrol dengan harga tinggi dipasaran, meski hingga kini belum ada kejelasan tentang pasaran getah jernang dari pemerintah, namun buah jernang merupakan salah satu aset budidaya pertanian yang cukup baik untuk dikembangkan, dan Dharmasraya merupakan salah satu daerah penghasil Dragon’s Blood untuk pasaran lokal dan internasional.

(Data dikutip dari berbagai sumber : Taksonomi Tumbuhan, wikipedia, dan lain-lain)

5 comments