Mahasiswa Tuntut Polisi Pelanggar HAM di Dharmasraya diproses secara Hukum.

Meski peristiwa Aur Jaya telah terjadi sekitar dua bulan yang lalu, Mahasiswa yang tergabung dalam LIMAMIRA (LIngkar MAhasiswa MInang RAya) dan GEMARA (Gerakan Mahasiswa dharmasRAya) yang merupakan gabungan dari ketua-ketua BEM perguruan tinggi SUMBAR dengan jumlah sekitar 50 orang melakukan Unjuk rasa dalam bentuk Hearing dengan anggota DPRD Dharmasraya, dalam orasinya Mahasiswa menilai DPRD Dharmasraya terkesan mengabaikan pelanggaran HAM yang terjadi di Aur Jaya.

Aksi yang digelar dari pukul delapan pagi tersebut dikawal ketat aparat kepolisian Dharmasraya, sekitar dua unit truck Dalmas berisikan aparat kepolisian dengan seragam anti huru hara lengkap tampak mengiring aksi unjuk rasa yang digelar 50 orang utusan mahasiswa dari masing-masing unit perguruan tinggi se-sumatera barat tersebut, dalam perjalanan menuju kantor DPRD Dharmasraya rombongan Mahasiswa juga membagikan selebaran kepada masyarakat yang ditemui disepanjang jalan, selebaran tersebut berisikan 4 tuntutan mahasiswa kepada DPRD Dharmasraya terkait pelanggaran HAM yang telah dilakukan Aparat kepolisian di Aur Jaya pada tanggal 25-27 November 2012 lalu, setibanya di halaman kantor DPRD Dharmasraya mahasiswa juga melakukan teatrikal, sambil memeragakan keganasan perlakukan aparat kepolisian di jorong Aur Jaya Sitiung V beberapa waktu lalu.

Empat tuntutan mahasiswa tersebut adalah : 1. Meminta DPRD Dharmasraya mengusut tuntas kasus aparat POLRI yang melakukan keseweang-wenangan terhadap masyarakat Aur Jaya, 2. Meminta DPRD Dharmasraya berperan aktif untuk benar-benar membantu masyarakat serta berpihak kepada masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut seadil-adilnya, 3. DPRD Dharmasraya diharapkan ikut serta memulihkan kembali trauma yang mendalam yang terjadi di masyarakat Aur Jaya, sebagai bapak dari Rakyat, 4. Mengadili pelaku pelanggaran HAM.

Arif Gumensa selaku koordinator aksi dalam dengar pendapat di ruang rapat DPRD Dharmasraya mengatakan, bahwa aksi ini merupakan Hearing awal dimana mahasiswa yang hadir kali ini terdiri dari ketua-ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tujuh perguruan tinggi se-sumatera barat, koordinator aksi mengatakan akan menurunkan 25 aliansi mahasiswa yang ada di sumbar dalam jumlah yang lebih banyak lagi, jika tuntutan mahasiswa diabaikan DPRD Dharmasraya.

Dialog yang dilakukan rombongan mahasiswa dengan 11 orang angota DPRD berlangsung alot, Chandra salah seorang peserta aksi menyampaikan bahwa tindakan sewenang-wenang yang dilakukan aparat kepolisian di jorong Aur Jaya tersebut sangat menyalahi undang-undang no 2 tahun 2002 tentang kepolisian RI. Tidak seharusnya Polisi bertindak tanpa mengikuti aturan undang-undang yang berlaku di negara ini, bahkan masyarakat yang tidak terlibat apapun dalam ilegal mining juga mendapat tekanan dan intimidasi dari aparat, jelas Chandra.

Hearing antar mahasiswa dengan anggota DPRD Dharmasraya tersebut membuahkan sebuah kontrak sosial diatas matrai 6000, dimana DPRD Dharmasraya akan memenuhi tuntutan mahasiswa, dan dalam satu bulan kedepan mahasiswa sudah bisa mengakses informasi perkembangan terkait tuntutan yang disampaikan dalam aksi unjuk rasa tersebut. Penandatangan kontrak sosial tersebut disambut dengan tepuk tangan riuh dari dua kelompok mahasiswa (GEMARA dan LIMAMIRA).

Dragon's Blood On Dharmasraya

Jernang (Daemonorops draco resin) atau dikenal juga dengan Buah jernang, di pasaran internasional di kenal pula dengan istilah Dragon’s Blood, dan berbagai istilah lainnya, buah jernang diperoleh dari jenis tanaman Rotan, buah ini tumbuh liar di belantara rimba, getah buah jernang merupakan salah satu bahan dasar pewarna dengan kualitas yang sangat baik, untuk alasan itu pula getah jernang dibandrol dengan harga yang cukup mahal di pasaran internasional, belum banyak laporan yang menyatakan buah ini atau jenis rotan yang menghasilkan buah jernang ini di budidayakan secara luas oleh masyarakat. Di Dharmasraya getah jernang di perkenalkan oleh orang-orang dari suku Kubu, hingga populer pula di kalangan Orang Terang.




Pola hidup suku kubu yang sangat tergantung dengan hasil hutan menjadikan buah jernang layaknya emas merah, mereka menjaga kawasan-kawasan yang ditumbuhi oleh rotan penghasil buah jernang dengan sangat ketat. Jernang bermusim sekali setahun, pada bulan awal tahun jenis rotan penghasil jernang mulai berputik, biasanya suku kubu akan panen buah jernang pada pertengahan tahun. Seperti diterangkan Isa salah seorang dari kelompok suku Kubu, saat ini buah jernang juga di cari orang terang karena harganya yang cukup tinggi di pasaran, Toke (pedagang pengumpul) pengumpul jernang menghargai setiap gram dalam harga yang bervariasi, dalam istilah orang kubu samato atau duomato, samato getah jernang dihargai seratus ribu rupiah, jika sampai sepuluhmato (senilai 1 kg) getah jernang di hargai satu juta sampai satu juta duaratus ribu rupiah, bervariasi tergantung harga yang ditetapkan Toke, jelas Isa.

kompas musafir
Di Indonesia darah naga (getah jernang) dipasarkan secara gelap, tidak ada aturan yang jelas tentang harga getah jernang ketika dipasarkan ditingkat internasional, menurut pengakuan salah seorang penjual getah jernang lintas negara yang tidak bersedia disebutkan namanya, mereka menjual “darah naga” sekilonya lima juta rupiah dipasar internasional, harga ini juga relatif berubah-ubah, China merupakan salah satu nagara langganan mereka, bahkan tidak jarang pula pedagang dari India meminta “darah naga” dalam jumlah banyak, dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Buah jernang sangat berharga oleh Suku kubu, dari perkembangan yang terjadi di Dharmasraya, dua kelompok suku kubu yakni kelompok Bujang Bagak dan kelompok Isa pada bulan November 2012 lalu melakukan aksi unjuk rasa ke PT.BRM, salah satu alasannya karena ladang Jernang mereka telah ditumbang habis oleh PT.BRM, dalam aksi tersebut dua kelompok suku kubu meminta ganti rugi.

Orang-orang suku kubu mengolah Buah jernang menjadi getah jernang dengan proses yang sangat sederhana, menggunakan sebuah keranjang terbuat dari anyaman rotan yang mereka sebut Mbung atau Ambung, dalam ambung buah jernang di ekstrak dengan cara dipukul-pukul, getah yang keluar ditampung dalam wadah plastik kemudian dijemur dibawah terik matahari.

literatur taksonomi tumbuhan menerangkan, di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan baku lipstick, serbuk untuk gigi, penyakit asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak kegunaan lainnya.

Dari sekian banyak kegunaan tersebut membuat “Darah Naga” dibandrol dengan harga tinggi dipasaran, meski hingga kini belum ada kejelasan tentang pasaran getah jernang dari pemerintah, namun buah jernang merupakan salah satu aset budidaya pertanian yang cukup baik untuk dikembangkan, dan Dharmasraya merupakan salah satu daerah penghasil Dragon’s Blood untuk pasaran lokal dan internasional.

(Data dikutip dari berbagai sumber : Taksonomi Tumbuhan, wikipedia, dan lain-lain)