Bagian 1 - Perjalanan Nasib Harimau Sumatera

kompas musafir
Hari itu Senin sore 6 Mei 2013 di Bukit Gading, Bujang sengaja pulang memilih jalan pinggiran hutan sepadan kebun karetnya, jalan itu biasanya dilalui orang kampung yang hendak mencari manau ke hutan, Bujang memilih jalan itu karena ingin melihat jerat Babi yang sudah dipasangnya lima hari lalu, sambil mengayun parang menebas semak-semak setinggi lutut Bujang bersiul mengisi jalan pulanya.
Kawasan Bukit Gading tempat Bujang bermukim berada dalam kecamatan Koto Besar, sebuah perkampungan yang memiliki hutan sedikit luas dibanding kampung lain di kabupaten Dharmasraya, dalam sejarah Minang Kabau Bukit Gading dikenal juga dengan Bukit Tambun Tulang, dahulu kala Bukit Gading merupakan salah satu kampung yang menjadi pusat persinggahan dan berniaga bagi perahu dagang anak-anak sungai Batang Hari, tapi itu dulu saat ini rerata penduduknya berprofesi sebagai petani karet, Bujang salah satu “penganut” profesi tersebut, satu dua ada juga penduduk kampung yang bekerja di kantor pemerintahan kecamatan setempat dan pada umumnya mereka adalah sarjana-sarjana muda yang baru selesai sekolah, bekerja sebagai tenaga sukarela (Suka disuruh-suruh rela tidak digaji) dikantor tersebut.
Sekira dua jam lebih sudah Bujang berjalan di hutan, semak-semak dibelakang Bujang rebah akibat tebasan parangnya, langkahnya semakin mendekati tempat jerat Babi yang dipasangnya, dari jarak  itu bujang mendengar suara lenguhan aneh, menurutnya suara itu bukan suara lenguhan Babi, dia mempercepat langkah.
“Mulanya saya yakin itu bukan suara lenguhan babi”, jelas Bujang. keyakinan Bujang semakin kuat setelah beberapa batang semak disingkirkan dengan parang, ternyata benar Bujang kaget didepannya tampak seekor Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumatrae) sedang terbaring miring melenguh menahan sakit, terlihat kaki kiri bagian belakangnya dililit kawat Sling dan mengeluarkan banyak darah.
“Saking takutnya saya mundur beberapa langkah, tak percaya dengan yang saya lihat”, kata Bujang sambil menurunkan lengan bajunya. Lebih kurang satu jam Bujang berdiri melongo tidak tahu harus berbuat apa, sementara itu si “Raja Hutan” semakin kuat merintih manakala didekatnya telah hadir sosok manusia, Bujang tetap saja berdiri seperti patung, karena lenguhan Harimau itu semakin keras Bujang memberanikan diri agak dekat, sekarang semakin jelas olehnya seekor Harimau betina dengan kaki belakang dilumuri darah akibat kawat sling.
“Seperti menguap, suara Harimau itu berat tapi tidak keras, kadang dia juga mengoek seperti anak kerbau”, kata Bujang sambil menghisap dalam kretek Joget yang sedari tadi disulutnya. Menit-menit berikutnya Bujang juga tidak tahu harus berbuat apa, pada akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan melaporkan “Temuan” tersebut kepada tetua kampung.
“Harimau itu, pak. Tidak mungkin atas dasar kasihan saja saya melepas kawat sling yang mengikat kakinya, konyol namanya itu, bagaimanapun dia hewan buas”, jelas Bujang dengan bahasa indonesia yang dipaksakan.
Malam itu kampung Bukit Gading sibuk, dikedai-kedai kopi pembicaraan tak beranjak dari topik “Temuan” Bujang di dalam perangkapnya yang salah sasaran, demikian juga dengan para ibu, mereka sedari Magrib sudah berkumpul di rumah Bujang.
Erot istri Bujang dan mertuanya terlihat sibuk melayani obrolan dan pertanyaan para ibu tentang seputaran Harimau betina yang terkena jerat suaminya, lama-kelamaan cerita para ibu itu berujung ke mitos-mitos seputaran Harimau dan “penjaga kampung” lainnya.
Rumah Hasyim tetua adat juga tidak kalah sibuknya, pemuka masyarakat dan pemuda berkumpul membicarakan ”Temuan” Bujang, seluruh ruang tengah sesak oleh pemuda. Edi salah seorang tokoh pemuda mengusulkan agar harimau tersebut dilepaskan saja dengan syarat harus ada dua puluh laki-laki yang melakukannya.
“Harimau itu jelas tidak akan bisa dilepaskan oleh dua atau tiga orang laki-laki saja, maka itu beberapa orang mengikat dengan tambang lalu dipegang kuat dan yang lain melepaskan kawat sling yang mengikat kakinya”, terang Edi menjelaskan teknis pertolongan, sebagian pemuda ada yang mengangguk. Lukman, yang hari-harinya banyak dihabiskan mencari Manau di hutan mendukung pendapat Edi dengan menambahkan pendapatnya.
“Tidak masalah Harimau itu diselamatkan dengan cara Edi, tapi saya minta kejadian ini jangan sampai diketahui oleh pemerintah, bisa-bisa kita yang tertuduh menangkap hewan yang dilindungi negara ini, berurusan pula kita dengan penjara”, terang Lukman. Suasana semakin ramai, pemuda-pemuda lain gaduh dengan komentar Lukman.
“Mana mungkin kita bisa menjadikan peristiwa ini rahasia”, jelas seorang pemuda yang tidak tampak batang hidungnya. Keriuhan dirumah itu ditengahi Hasyim tetua adat yang disegani. “Bapak-bapak sekalian, memang sebaiknya kita memberitahu pemerintah, jika tidak kerja kita juga akan sia-sia, toh luka dikaki Harimau itu juga harus disembuhkan, bisa kita bayangkan sekiranya kita melepas Harimau luka ke hutan, dia juga akan mengamuk, kalau sudah begitu kita tidak juga kita akan merasa aman menderes karet atau mencari Manau di hutan”, terang Hasyim sambil mengelus jenggotnya.
“Kalau kita serahkan ke pemerintah setidaknya luka di kaki Harimau itu bisa disembuhkan dengan bantuan obat-obatan”, lanjut Hasyim.
Bujang selaku yang punya perangkap dan penemu Harimau itu ternyata keberatan. “Saya tidak setuju harimau itu diserahkan ke pemerintah, nanti orang-orang dinas pemerintahan itu menjualnya, Harimau itu penjaga kampung kita, toh bapak-bapak tahu selama ini kita tidak pernah juga diganggu Harimau, bahkan Harimau lebih banyak membantu kita membasmi hama Babi dan menolong orang-orang kampung yang tersesat di hutan, pokoknya saya tidak setuju”, bentak Bujang geram.
Sesaat suasana di rumah tetua adat hening, penduduk kampung Bukit Gading sedikit banyaknya memahami kelakuan pejabat-pejabat pemerintahan di kabupaten Dharmasraya, dan ketakutan Bujang itu bisa saja benar.
.Mitos tentang Harimau penyelamat orang-orang yang tersesat di hutan tidak bisa disepelekan, hingga kini orang-orang kampung khususnya pencari Manau di hutan sering ditolong Harimau jika tersesat di hutan, pertolongan itu selalu terjadi diwaktu Magrib ketika penebang Manau kebingungan mencari pohon jejak, dalam keadaan begitu tidak lama Harimau muncul, belang yang terdapat di sebatang badan Harimau selalu terlihat menyala diwaktu malam, kegelapan Magrib belum akan memudarkan cahaya belang yang terdapat di tubuh Harimau, jadi siapapun yang tersesat di hutan tinggal mengikuti kemana arah cahaya belang itu, dan tak lama kemudian mereka yang tersesat akan menemukan jalan setapak menuju kampung.    Begitu cara Harimau menolong orang-orang yang tersesat di hutan.

Contiuned ... bagian 2

Bagian 2 - Perjalanan Nasib Harimau Sumatera

kompas musafir
Sambungan Bagian 1 ....

Tiga puluh sembilan kilometer dari kampung Bukit Gading, ditengah keriuhan orang-orang kampung memusyawarahkan Harimau yang terkena jerat Bujang malam itu, disebuah kantor dinas pemerintahan beberapa pegawai tampak sibuk mengusung kerangkeng besi berukuran empat kali satu meter keatas sebuah kendaraan dinas, Munzir salah seorang petugas dinas kehutanan selepas Magrib tadi menerima pesan singkat di phonselnya dari Abdul tenaga sukarela di kantor pemerintahan desa Bukit Gading, dalam pesan itu Abdul menjelaskan panjang lebar tentang seekor Harimau betina yang terperangkap di jerat babi milik Bujang.
“Ini kita sedang persiapkan peralatan untuk evakuasi Harimau itu”, kata Munzir. “Saya juga belum melihat seperti apa kondisi Harimau itu sekarang, yang jelas malam ini kita persiapkan semuanya, kalau tidak ada halangan malam ini atau besok pagi kita akan evakuasi Harimau malang itu”, jelas Munzir.
Selasa pagi sekira pukul 8.45 tanggal 7 Mei 2013, Mimin salah seorang penulis muda di kabupaten Dharmasraya, mendapati pesan singkat dari nomor tidak dikenal di phonselnya, "Seekor Harimau dikerangkeng di depan kantor Bupati", begitu tulis pesan singkat itu, tanpa pikir panjang Mimin menstarter motornya langsung menuju kantor Bupati, sepuluh menit kemudian Mimin sudah berada di kantor Bupati, beberapa penulis lain juga sudah disana, bahkan pegawai kantor Bupati juga sibuk mengerumini kerangkeng besi itu, kerangkeng yang sama ketika malam itu dipersiapkan Munzir sewaktu mendapat kabar dari Abdul.
Dalam kerangkeng itu sekarang terbaring seekor Harimau Sumatera, tidak bergerak, terlihat di kaki kanan bagian belakangnya luka dan darah yang membeku, pada mulanya Mimin menyangka "Raja Hutan" itu telah mati, namun dari keterangan salah seorang petugas berpakaian seragam kehutanan mengatakan Harimau tersebut tidak mati hanya dibius.
"Besar sekali Harimaunya, saya agak kesulitan ambil foto karena kerumunan orang-orang yang juga ingin melihat, kerangkeng itubagian luarnya dilapisi dengan pelepah sawit, mungkin biar Harimaunya merasa adem kali ya!", terang Mimin sambil memperlihatkan deretan giginya yang jenaka.
Sekitar lima belas menit kemudian tampak Bupati Dharmasraya Ir. Adi Gunawan mendekati kerumunan, orang-orang dikerumunan menepi, penulis-penulis lain dan pegawai kantor Bupati yang punya kamera tampak sibuk memoto Bupati Dharmasraya yang berdiri disamping kerangkeng si "Raja Hutan".
"Harimau Sumatera ini akan dibawa ke kebun binatang Kandis di Sawahlunto untuk diobati lukanya, nanti kalau sudah pulih lukanya akan kita kembalikan ke habitatnya", komentar Bupati.
Sabtu 11 Mei 2013, lima hari semenjak Harimau Sumatera berjenis kelamin betina itu tertangkap, dihalaman serbaneka Harian Umum Singgalang memberitakan “Kebun Binatang tambah Koleksi Harimau”, seperti yang dilansir harian tersebut di kebun binatang Bukit Tinggi kedatangan keluarga baru, yaitu seekor Harimau Sumatera berjenis kelamin betina, Harimau betina tersebut bernama "Dara Jingga", nama tersebut diberikan oleh Bupati Dharmasraya Ir. Adi Gunawan, sebuah nama yang sangat Historis diambil dari nama seorang puteri kerajaan Dharmasraya.
Beralihnya keberadaan Harimau Sumatera yang terperangkap di jerat Bujang lima hari lalu, menuai tanda tanya besar bagi para pemerhati lingkungan. Hendri salah seorang penulis mengatakan, "Kenapa Bupati tidak komitmen dengan ucapannya, beberapa hari lalu dikatakan akan dikembalikan ke habitatnya, kebun binatang bukan habitat Harimau, apalagi satwa tersebut dilindungi karena keberadaannya semakin langka di Sumatera, ucapan seorang pemimpin akan menjadi penilaian bagi anak buah dan masyarakat yang dipimpinnya", jelas Hendri.
Lain halnya dengan Putri, salah seorang pemerhati satwa lindung, dari korespondensinya mempertanyakan kesungguhan balai Konservasi Sumber Daya Alam terkait Harimau betina yang tertangkap dan dikandang di kebun binatang Bukit Tinggi tersebut.
"Pelepasan satwa liar selalu butuh waktu, tergantung juga kondisi hewan dan prosedur lainnya, dari seluruh proses konservasi pelepasan liar selalu menjadi tahapan yang rumit, jadi banyak pertimbangan lain, tentu kita tidak bisa berharap kepada Bupati terkait soal ini, namun secara jalurnya BKSDA punya peran lebih besar terhadap kasus seperti ini, sekarang bagaimana kesungguhan mereka menangani satwa yang dilindungi", tulis Putri dalam pesan singkatnya.
Syafril Suharto salah seorang petuga BKSDA Sumbar dalam wawancaranya di Harian Senggalang (11/05) menjelaskan, diperkirakan umurnya 4 hingga 5 tahun.
“Kami tidak tahu sudah berapa lama Harimau ini terjerat, namun kondisi pada kaki bagian kanan terluka dan bengkak akibat jeratan”, sebutnya.
Syafril menyebutkan, selain alasan kesehatan, Harimau itu tidak bisa dititip ke kebun Binatang Sawahlunto, sebab disana ada Harimau jenis Benggala, sehingga tidak cocok disatukan dengan Harimau Sumatera.
Pendapat petugas BKSDA Sumbar tersebut sama sekali tidak seiring dengan maksud  “Konservasi” terhadap satwa lindung seperti yang tertuang dalam Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dimana Konservasi itu sendiri bermaksud menjaga kesinambungan sumber daya alam agar dapat terpelihara serta meningkatkan kualitas keanekaragamanya, jelas hal tersebut sama sekali tidk ada kaitannya dengan kebun binatang seperti yang terjadi dalam kerjasama BKSDA Sumbar dengan Kebun Binatang Bukir Tinggi.
Memaknai ‘negosiasi’ antara BKSDA  Sumbar dengan kebun binatang Bukit tinggi, wajar Putri mempertanyakan keseriusan unit pelaksana (BKSDA) yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi  Alam Kementrian Kehutanan tersebut.
Suku Kubu yang mendiami sebagian besar sisa kawasan hutan Dharmasraya, setiap hari aktifitas hidupnya tidak terlepas dari hutan, berburu dan meramu makanan di hutan, mereka sejatinya memiliki rasa hormat lebih terhadap lingkungan hutannya, bagi mereka Harimau Sumatera termasuk salah satu hewan yang akrab dalam kehidupan hutan, mereka bahkan tidak pernah menjadi mangsa Harimau, seperti pendapat lugu yang disampaikan Bujang Paibo.
"Kami menamokannyo inyiak, kalau gajah dek kami namonyo datuk, sayo dan bapak sayo pernah bertemu inyiak waktu mencari jonang, kalau dio (inyiak) tu mangelak dari kami", tutur Bujang paibo sambil menajamkan pandangannya.
Matahari sudah agak naik ketika Bujang selesai membuat kandang ayam kecil dibelakang rumahnya, Bujang belum tahu kalau Harimau betina yang masuk dalam perangkapnya enam hari yang lalu telah pulih, dan sekarang dikandang di kebun binatang Bukit Tinggi. Dari cerita Bujang, dua hari setelah si "Raja Hutan" di bebaskan oleh petugas kehutanan, suasana kampung Bukit Gading terasa aneh, beberapa penduduk kampung yang kebetulan pulang sore dari kebun sering mendengar suara melengking dari dalam hutan, penduduk kampung yang biasanya mencari Manau tahu kalau suara lengkingan itu adalah suara Harimau.
"Lengkingan itu suara Harimau", kata Imron salah seorang pencari Manau.
Malam hari dikedai-kedai kopi ramai juga laki-laki membicarakan lengkingan Harimau itu, disamping itu mereka juga membicarakan Istri-istri mereka ketakutan mengantarkan rantang makan siang ke kebun, takut terjadi hal yang buruk. Hasyim sebagai tetua kampung juga merasa aneh, menurutnya dikampung ini tidak pernah Harimau mengeluarkan bunyi untuk waktu yang begitu lama, bahkan jika itu pertanda buruk Harimau akan memperlihatkan belangnya kepada penduduk di dalam kampung.
"Pertanda apa ini", ungkap Hasyim dengan kening berkerut.
Senin tanggal 13 Mei 2013,  malam itu di kedai kopi Idar seluruh pemesan kopi juga membicarakan lengkingan Harimau, nuansa ketakutan mulai terlihat di airmuka mereka, menganalisa dari pembicaraan mereka sepertinya tidak satupun diantara mereka yang mengetahui Harimau betina yang masuk perangkap Bujang enam hari lalu, sekarang telah dikandang di kebun Binatang Bukit Tinggi, turis manapun yang ingin berkunjung melihatnya harus membeli tiket masuk.
Suasana Bukit Gading yang tidak menentu beberapa hari terakhir menyebabkan penikmat kopi di kedai-kedai pulang lebih awal dari malam-malam biasanya.


Gambar 3 : Harimau Sumatera Berujung di Kebun Binatang

Mahasiswa Tuntut Polisi Pelanggar HAM di Dharmasraya diproses secara Hukum.

Meski peristiwa Aur Jaya telah terjadi sekitar dua bulan yang lalu, Mahasiswa yang tergabung dalam LIMAMIRA (LIngkar MAhasiswa MInang RAya) dan GEMARA (Gerakan Mahasiswa dharmasRAya) yang merupakan gabungan dari ketua-ketua BEM perguruan tinggi SUMBAR dengan jumlah sekitar 50 orang melakukan Unjuk rasa dalam bentuk Hearing dengan anggota DPRD Dharmasraya, dalam orasinya Mahasiswa menilai DPRD Dharmasraya terkesan mengabaikan pelanggaran HAM yang terjadi di Aur Jaya.

Aksi yang digelar dari pukul delapan pagi tersebut dikawal ketat aparat kepolisian Dharmasraya, sekitar dua unit truck Dalmas berisikan aparat kepolisian dengan seragam anti huru hara lengkap tampak mengiring aksi unjuk rasa yang digelar 50 orang utusan mahasiswa dari masing-masing unit perguruan tinggi se-sumatera barat tersebut, dalam perjalanan menuju kantor DPRD Dharmasraya rombongan Mahasiswa juga membagikan selebaran kepada masyarakat yang ditemui disepanjang jalan, selebaran tersebut berisikan 4 tuntutan mahasiswa kepada DPRD Dharmasraya terkait pelanggaran HAM yang telah dilakukan Aparat kepolisian di Aur Jaya pada tanggal 25-27 November 2012 lalu, setibanya di halaman kantor DPRD Dharmasraya mahasiswa juga melakukan teatrikal, sambil memeragakan keganasan perlakukan aparat kepolisian di jorong Aur Jaya Sitiung V beberapa waktu lalu.

Empat tuntutan mahasiswa tersebut adalah : 1. Meminta DPRD Dharmasraya mengusut tuntas kasus aparat POLRI yang melakukan keseweang-wenangan terhadap masyarakat Aur Jaya, 2. Meminta DPRD Dharmasraya berperan aktif untuk benar-benar membantu masyarakat serta berpihak kepada masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan tersebut seadil-adilnya, 3. DPRD Dharmasraya diharapkan ikut serta memulihkan kembali trauma yang mendalam yang terjadi di masyarakat Aur Jaya, sebagai bapak dari Rakyat, 4. Mengadili pelaku pelanggaran HAM.

Arif Gumensa selaku koordinator aksi dalam dengar pendapat di ruang rapat DPRD Dharmasraya mengatakan, bahwa aksi ini merupakan Hearing awal dimana mahasiswa yang hadir kali ini terdiri dari ketua-ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) tujuh perguruan tinggi se-sumatera barat, koordinator aksi mengatakan akan menurunkan 25 aliansi mahasiswa yang ada di sumbar dalam jumlah yang lebih banyak lagi, jika tuntutan mahasiswa diabaikan DPRD Dharmasraya.

Dialog yang dilakukan rombongan mahasiswa dengan 11 orang angota DPRD berlangsung alot, Chandra salah seorang peserta aksi menyampaikan bahwa tindakan sewenang-wenang yang dilakukan aparat kepolisian di jorong Aur Jaya tersebut sangat menyalahi undang-undang no 2 tahun 2002 tentang kepolisian RI. Tidak seharusnya Polisi bertindak tanpa mengikuti aturan undang-undang yang berlaku di negara ini, bahkan masyarakat yang tidak terlibat apapun dalam ilegal mining juga mendapat tekanan dan intimidasi dari aparat, jelas Chandra.

Hearing antar mahasiswa dengan anggota DPRD Dharmasraya tersebut membuahkan sebuah kontrak sosial diatas matrai 6000, dimana DPRD Dharmasraya akan memenuhi tuntutan mahasiswa, dan dalam satu bulan kedepan mahasiswa sudah bisa mengakses informasi perkembangan terkait tuntutan yang disampaikan dalam aksi unjuk rasa tersebut. Penandatangan kontrak sosial tersebut disambut dengan tepuk tangan riuh dari dua kelompok mahasiswa (GEMARA dan LIMAMIRA).

Dragon's Blood On Dharmasraya

Jernang (Daemonorops draco resin) atau dikenal juga dengan Buah jernang, di pasaran internasional di kenal pula dengan istilah Dragon’s Blood, dan berbagai istilah lainnya, buah jernang diperoleh dari jenis tanaman Rotan, buah ini tumbuh liar di belantara rimba, getah buah jernang merupakan salah satu bahan dasar pewarna dengan kualitas yang sangat baik, untuk alasan itu pula getah jernang dibandrol dengan harga yang cukup mahal di pasaran internasional, belum banyak laporan yang menyatakan buah ini atau jenis rotan yang menghasilkan buah jernang ini di budidayakan secara luas oleh masyarakat. Di Dharmasraya getah jernang di perkenalkan oleh orang-orang dari suku Kubu, hingga populer pula di kalangan Orang Terang.




Pola hidup suku kubu yang sangat tergantung dengan hasil hutan menjadikan buah jernang layaknya emas merah, mereka menjaga kawasan-kawasan yang ditumbuhi oleh rotan penghasil buah jernang dengan sangat ketat. Jernang bermusim sekali setahun, pada bulan awal tahun jenis rotan penghasil jernang mulai berputik, biasanya suku kubu akan panen buah jernang pada pertengahan tahun. Seperti diterangkan Isa salah seorang dari kelompok suku Kubu, saat ini buah jernang juga di cari orang terang karena harganya yang cukup tinggi di pasaran, Toke (pedagang pengumpul) pengumpul jernang menghargai setiap gram dalam harga yang bervariasi, dalam istilah orang kubu samato atau duomato, samato getah jernang dihargai seratus ribu rupiah, jika sampai sepuluhmato (senilai 1 kg) getah jernang di hargai satu juta sampai satu juta duaratus ribu rupiah, bervariasi tergantung harga yang ditetapkan Toke, jelas Isa.

kompas musafir
Di Indonesia darah naga (getah jernang) dipasarkan secara gelap, tidak ada aturan yang jelas tentang harga getah jernang ketika dipasarkan ditingkat internasional, menurut pengakuan salah seorang penjual getah jernang lintas negara yang tidak bersedia disebutkan namanya, mereka menjual “darah naga” sekilonya lima juta rupiah dipasar internasional, harga ini juga relatif berubah-ubah, China merupakan salah satu nagara langganan mereka, bahkan tidak jarang pula pedagang dari India meminta “darah naga” dalam jumlah banyak, dengan harga yang lebih tinggi lagi.

Buah jernang sangat berharga oleh Suku kubu, dari perkembangan yang terjadi di Dharmasraya, dua kelompok suku kubu yakni kelompok Bujang Bagak dan kelompok Isa pada bulan November 2012 lalu melakukan aksi unjuk rasa ke PT.BRM, salah satu alasannya karena ladang Jernang mereka telah ditumbang habis oleh PT.BRM, dalam aksi tersebut dua kelompok suku kubu meminta ganti rugi.

Orang-orang suku kubu mengolah Buah jernang menjadi getah jernang dengan proses yang sangat sederhana, menggunakan sebuah keranjang terbuat dari anyaman rotan yang mereka sebut Mbung atau Ambung, dalam ambung buah jernang di ekstrak dengan cara dipukul-pukul, getah yang keluar ditampung dalam wadah plastik kemudian dijemur dibawah terik matahari.

literatur taksonomi tumbuhan menerangkan, di dalam getah jernang mengandung senyawa dracoresen (11%), draco resinolanol (56 %), draco alban (2,5 %) sisanya asam benzoate dan asam bensolaktat. Getah jernang biasanya dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, diantaranya sebagai campuran obat diare, disentri dan pembeku darah akibat luka, sebagai bahan baku pewarna porselen, pewarna marmer, bahan baku lipstick, serbuk untuk gigi, penyakit asma, sipilis, berkhasiat aphrodisiac (meningkatkan libido) serta banyak kegunaan lainnya.

Dari sekian banyak kegunaan tersebut membuat “Darah Naga” dibandrol dengan harga tinggi dipasaran, meski hingga kini belum ada kejelasan tentang pasaran getah jernang dari pemerintah, namun buah jernang merupakan salah satu aset budidaya pertanian yang cukup baik untuk dikembangkan, dan Dharmasraya merupakan salah satu daerah penghasil Dragon’s Blood untuk pasaran lokal dan internasional.

(Data dikutip dari berbagai sumber : Taksonomi Tumbuhan, wikipedia, dan lain-lain)