Polisi Terindikasi Langgar HAM, Di Dharmasraya.

Akhirnya komnas HAM turun tangan menyelidiki peristiwa yang terjadi di Sitiung V Jorong Aur Jaya pada tanggal 24 November 2012 lalu, Siti Nurlaila komisi Komnas HAM bidang pemantauan dan penyelidikan serta rombongan bersama PBHI (Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia) Sumbar, mendatangi langsung jorong Aur Jaya guna melihat kondisi pasca penangkapan warga oleh 500 orang personil aparat kepolisian bersenjata lengkap 25 November lalu, sampai di Jorong Aur Jaya tim berdialog dengan masyarkat di rumah salah seorang warga.

Seperti yang diberitakan di media lokal Dharmasraya Ekspres (12/12), Menurut Nurlaila tindak Penangkapan tanpa melalui prosedur resmi seperti yang dilakukan ratusan aparat kepolisian tersebut terindikasi melanggar HAM.

“Aksi Sweeping yang dilakukan aparat kepolisian sudah tidak prosedural lagi, dengan tidak mempertimbangkan azas praduga tak bersalah”, jelas Nurlaila.

Hal itu dipertegas oleh salah seorang praktisi hukum PBHI Sumbar, Edi Ramadhan, bahwa benar tindakan aparat tersebut tidak melalui prosedur, dimana semua laki-laki dewasa dan remaja di paksa naik truk lalu kemudian di bawa ke Mapolres Dharmasraya. Dalam aksi sweeping tersebut aparat juga melakukan tindakan pemukulan terhadap warga yang belum tentu terlibat dalam kasus dugaan penyanderaan kapolres Dharmasraya AKBP Khairul Aziz.

Bukan Cuma itu saja, ibu Mimin hingga saat ini mengaku cucu perempuannya berusia 5 tahun takut melihat orang baru apalagi yang memakai seragam Polisi dan selalu lari sembunyi ketika mendengar bunyi kendaraan yang datang, dan masih banyak warga lain khususnya anak-anak yang merasakan trouma pasca kejadian tersebut. tidak itu saja dalam “Sweeping” tersebut aparat kepolisian yang berjumlah ratusan itu juga melakukan aksi penembakan berkali-kali ke udara, terang saja hal itu membuat takut perempuan dan anak-anak.

Malangnya lagi ibu-ibu yang suaminya hingga kini belum pulang, karena takut kalau pulang kemudian diciduk polisi, selain itu warga laki-laki yang tidak terlibat dalam “Peyanderaan” kapolres tersebut juga ada yang mengalami kerusakan fisik serius, Jhon henri (23) salah satunya, sehari-harinya bekerja menderes karet di kebun orang tuanya, dan tidak tahu apapun soal perkara “Penyanderaan” kapolres, mengalami cidera serius di punggung akibat pemukulan oleh aparat ketika di giring naik ke atas truck, sekarang jhon kalau berjalan agak pincang, ketika disarankan untuk berobat ke rumah sakit Jhon tidak bersedia karena masih trouma melihat polisi.

Parmin (45), juga mengalami pendarahan serius di telinganya, bahkan sempat dilarikan ke RSU Muaro Bungo setelah kejadian itu, salah seorang warga yang tidak bersedia disebutkan namanya mengatakan, “Kami diperlakukan seperti binatang, dipukul dan di hantam meski tidak seorangpun diantara kami yang melakukan perlawanan”.

Lebih lanjut disampaikan Nurlaila, dari data yang telah dikumpulkan tersebut untuk selanjutnya akan disampaikan dan dilaporkan bahwa aksi “Sweeping” yang dilakukan aparat kepolisian tersebut telah terindikasi melanggar HAM, dan tembusannya akan disampaikan ke POLRI.

Hingga tulisan ini dirangkum Komnas HAM masih melakukan Interogasi ke jajaran Polres Dharmasraya terkait aksi “Sweeping” tersebut.

0 comments