Mama, Jangan Tumbang Pohon Kami

kompas musafir
Namanya Arbil pesoy, agak lama aku mengingat namanya berhubung sudah dua puluh sembilan tahun lebih kami tidak bersua, hari itu ketika hujan turun disebuah kedai kopi kami jumpa untuk pertama kalinya setelah acara pengambilan rapor dan ijazah di SDN 20 Lubuk Pering, rahangnya yang kokoh seakan tak berubah. Sambil menyeruput segelas kopi ditemani gorengan, kami awali nostalgia masa kecil kami yang indah dan bebas dari telenovella.

Pohon Jambu biji dibelakang rumahku, sebatang pohon yang menjadi dunia tersebdiri bagiku dan Arbil Pesoy dimasa itu, dibawahnya mengalir sungai piruko yang jernih dan dingin, diatas dahan dan rantingnya kami bercerita atau membaca buku cerita, sambil menikmati buah jambu biji, setelah puas bermandi di sungai kadanglaka kami ikut membantu Lilik mengembala sapi di padang rumput disekitar tepian sungai, dalam hal ini aku merasa sangat beruntung dibanding anak-anak lain yang tidak semasa denganku, kami punya sebatang pohon tempat kami berbagi cerita dan bermandi-mandi di batang piruko nan jernih.
Dalam pikiran kanak-kanak kami ketika itu, satu-satunya yang tidak menyukai kegiatan kami diatas pohon Jambu adalah mamaku, aku dan Arbil harus mengendap-endap melingkari pagar halaman belakang agar tidak ketahuan mama ketika kami menuju pohon jambu kesayangan kami, itu semua selalu kami lakukan sebelum kami sempat mengganti seragam sekolah, karena jika ketahuan moleh mamaku beliau akan sangat marah melihat dua bocah merah putih bergantungan diatas sebatang Jambu biji, pada umumnya kami selalu sukses dengan strategi mengendap-endap itu. dalam kontek perilaku anak-anak kami bisa dikatakan sukses praktikum penyusupan ala James Bond.
Kampungku berjarak cukup jauh dari ibukota kabupaten, menempuh perjalanan sekitar enam jam dengan Bus Antar Kota Dalam Propinsi, namun begitu penerangan listrik sudah tersedia dikampungku, meski listriknya menyala mulai pukul enam sore sampai pukul enam pagi, udik sekali kampungku dengan jadwal penerangan seperti itu. dengan semakin berkembangnya teknologi aku (Mungkin juga Arbil Pesoy) cukup merasa beruntung, tidak pernah menjalin hubungan dengan Indonesian Idol, Kontes Dangdut Indonesia, Putri yang di Tukar, atau cinta Fitri yang tidak pernah selesai.
Pada Suatu kali penyusupan ala James Bond kami terbongkar, kami berhasil meminjam tanpa prosedur di perpustakaan UPTD Pendidikan kecamatan, karena kebetulan mamaku bekerja di kantor UPTD Pendidikan, waktu itu kepala gudang mengeluhkan kepad seluruh pegawai UPTD bahwasanya beberapa kardus Buku Bacaan yang baru diterima dari kabupaten telah dibuka paksa tanpa diketahui siapa pelakunya, Insting James Bond mama mulai beranalisa dan mengarahkan hasil analisanya kepada kami yang sedang asyik membaca di atas pohon Jambu sambil mengunyah jambu biji.
Dalam keasyikan membaca aku mendengar suara dari bawah pohon, seseorang seperti memukul batang pohon dengan benda keras berkali-kali, tanpa menoleh kepada Arbil pesoy aku langsung memerintahkannya untuk cek keadaan.
"Siapa sih yang berisik tu, Bil coba kamu cek"
"Paling juga kambing lagi mengasah tanduk"
Seakan jawaban itu meyakinkan, kami terus saja membaca sambil mengunyah Tapi itu tidak lama, aku mendengar beberapa dahan dipatahkan, kontan saja kepalaku menoleh kebawah, disana aku lihat mama sedang mengayunkan kampak merontokkan dahan demi dahan, tanpa pikir panjang aku langsung terjun ke sungai begitu pula kawanku Arbil Pesoy, demi melihat gelagat mama yang tidak bersabahat terhadap pohon jambu kesayangan kami.
Situasi yang tidak normal itu membuat beberapa buku bacaan yang kami pinjam dengan cara tidak resmi tersebut basah kuyup, beberapa diantaranya robek dan hancur. kejadian lainnya setelah itu aku dihukum mama dengan tidak memberi jajan satu hari penuh keesokan harinya. Esoknya setengah hari disekolah aku menahan selera untuk tidak jajan kerupuk kuah bu PS.
Seripahan-serpihan kebahagian masa kecil itu selalu menjadi cermin kala mengamati dan membandingkan masa kecilku dengan anak-anak yang berada dalam pengaruh teknologi modern masa kini, kalau tidak keberatan aku boleh menamakan masa kini anak-anak telah diperbudak teknologi, terlebih dengan menjamurnya warung internet, Point Blank dan sejumlah games online lainnya yang seakan menyihir anak-anak untuk tidak beranjak dari hadapan layar monitor, orang tua tidak kuasa lagi mendampingi anak-anak atas pekembangan teknologi, bahkan beberapa Psikolog melalui media massa menyatakan; perilaku anak-anak sangat berpengaruh terhadap kebiasaan yang dilakukannya.
Kemana kita akan mengarahkan anak-anak terhadap teknologi yang berkembang saat ini dan sangat disayangkan pula ternyata orang tua ikut larut dalam telenovella yang seakan tidak pernah habisnya tayang di setiap stasiun televisi. Mari kita mulai bijak memilih.

0 comments