Orang Rimba, dibuai Janji

kompas musafir
Ruang hidup Suku Anak Dalam (SAD) atau dikenal juga dengan orang rimba semakin menyempit, usaha memberikan ruang hidup dalam bentuk kesediaan kawasan hutan terus dilakukan oleh perkumpulan Peduli di Dharmasraya bekerjasama dengan SSS-Pundi Jambi. Dalam jumpa pers bersama sejumlah wartawan Nasional dan perkumpulan peduli di kediaman Bupati Adi Gunawan beberapa waktu lalu, Bupati menjelaskan Negara melalui kementrian koordinator kesejahteraan rakyat menyediakan dana sekitar 2,9 M untuk pelayana kesehatan bagi warga miskin, termasuk bagi komunitas Suku Anak Dalam di Dharmasraya.

Dialog yang terjadi pada bulan Oktober yang lalu tidak membuahkan hasil yang signifikan sesuai dengan yang disampaikan Bupati Dharmasraya, terbukti hingga saat ini tidak satupun gerakan yang dilakukan pemda Dharmasraya terkait persoalan kemiskinan yang melilit kehidupan Suku Anak Dalam, apakah itu soal pendataan ataupun pelayanan kesehatan terhadap Suku Anak Dalam.

Harbi (25) salah seorang anggota perkumpulan Peduli beberapa waktu lalu dalam kegiatan pendampingan pendidikan bagi SAD di hutan Bakur mengatakan, bahwa saat ini Gadih Bungo salah seorang anak dari komunitas Suku Anak Dalam sedang dalam perawatan terkait penyakit TB yang dideritanya, menurutnya kalau bukan mereka yang mendampingi gadih Bungo memeriksa kesehatan tentu akan banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi, dimana persyaratan berupa KTP atau surat keterangan lainnya tersebut tidak pernah dimiliki oleh kelompok SAD.

“Dalam dua bulan terakhir ini kita tidak pernah mendapati petugas kesehatan mendata atau melakukan sesuatu terkait  usaha pemda dalam memberikan layanan kesehatan kepada SAD, apalagi beberapa waktu lalu kami pernah menanyakan kepada salah seorang petugas kesehatan di Puskesmas Koto Besar, bahwasanya mereka tidak mendapatkan anggaran tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada SAD, apalagi lokasi kediaman SAD sangat jauh dan sulit dijangkau”, jelas Harbi.