Terorisme, Kambing Hitam



kompas musafir
Lagi-lagi terosisme muncul dalam setiap pemberitaan televisi, seperti kebakaran jenggot pihak aparat keamanan memburu pelaku penembakan di pos pengamanan Polisi kota Solo, ketika para report jurnalis TV memberitakan kejadian tersebut adalah ulah teroris, kita seperti kehilangan analisa, sehingganya setiap prilaku kriminal di identikkan dengan kelompok teroris, apakah benar demikian, denga mudahnya seseorang menjadi teroris sekalipun itu adalah kriminal menggunakan senjata.

Para ahli hukum internasional belumlah sepakat memberi pengertian tentang Teroris atau Terorisme ini, tidak semudah itu menduga seseorang menjadi “Terduga Teroris”, Prof. M. Cherif Bassiouni seorang ahli hukum pidana Internasional pernah mengatakan, “Tidak mudah untuk mengadakan suatu pengertian yang identik yang dapat diterima secara universal sehingga sulit untuk mengadakan pengawasan terhadap makna Terorisme tersebut”(Wikipedia), hal itu sungguh berbeda dengan apa yang terjadi di Negeri tercinta ini, terlebih lagi saat ini semua rakyat sipil punya kemungkinan untuk memiliki senjata, baik itu melalui izin Perbakin ataupun melalui jalur ilegal.

Serangkain penyerangan berbau terorisme pernah terjadi di Indonesia, salah satu makna yang bisa kita petik dari serangkaian serangan itu adalah aparat keamanan selalu kecolongan setiap “Kelompok mengerikan” itu melancarkan aksinya, jika memang kelompok terorisme ini sudah teridentifikasi dengan jelas oleh aparat adakah terpantau setiap gerakan yang mereka lakukan, jawabannya tidak, buktinya setiap aksi yang dilakukan oleh kelompok tersebut tidak pernah bisa diatasi secara dini, alhasil tindakan terorisme yang mereka lakukan hanya menjadi semacam kuliner di halaman depan media massa, tersaji di awal pagi, ataukah ini hanya semacam pengalihan isu saja.

Sekitar dua juta penduduk Indonesia (termasuk saya, tokoh politik dan pengusaha), adakah yang menyadari bibit teroris itu sedang tumbuh subur di negara kita, akibat ketidakadilan yang terjadi disetiap pelosok negeri. kemiskinan misalnya, bukankah kemiskinan itu juga biji yang baik untuk menumbuhkan nilai terorisme dalam diri.

Mungkin saja kelompok terorisme yang sudah ada lebih memberikan rasa keadilan bagi ratusan rakyat miskin yang sedang bertebaran di negara ini, kita tidak usah berpajang lebar tentang kemiskinan ini, tapi sadarlah bahwa kemiskinan dan ketidakadilan adalah benih terorisme yang siap disemai oleh jutaan “Kelompok Mengerikan” di dunia ini.

Jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikan program televisi menayangkan para penegak hukum sibuk menanggapi tentang keluhan seorang penjabat istana kepresidenan yang sedang twit disebuah jejaring sosial, tentang koruptor sekaliber Gayus, Artalita Suryani yang sedang mengaso di prodeonya. Rakyat menjerit, seperti itukah keadilan itu, atau ketika seorang nenek mencuri beberapa tandan buah perusahaan perkebunan lalu kemudian di bawa ke meja hijau, yang pada dasarnya yang dilakukannya itu hanya untuk mengganjal perutnya (saya pikir hal yang seperti ini tidak pernah menjadi perbincangan menarik untuk ditayangkan di televisi).

Apa yang sedang terjadi, penegak keadilan begitu gigih memperjuangkan klien mereka yang punya uang banyak, belum lagi maling atau copet yang mati di hantam sebelum kasusnya sampai ke meja hijau, demikian juga dengan orang tua Bayu (Terduga Teroris) yang di hantam aparat sehingga mukanya babak belur, seperti tidak ada etika dalam menyelesaikan kasus.(saya pikir hal yang seperti ini juga tidak pernah menjadi perbincangan menarik untuk ditayangkan di televisi).

Mengapa kita mengutuk dan mengkambinghitamkan Terorisme, toh semua mata pernah menyaksikan kemiskinan itu seperti apa, dan ketidakadilan itu juga nyata terjadi di depan mata kita, untuk menjadi benih-benih teroris baru.

0 comments