Gajah Sumatera diambang Punah

Dua belas Agustus tahun duaribu duabelas, aku kembali ke Kubang Gajah, suatu daerah yang menjadi konservasi gajah di rimba pedalaman provinsi Riau terbentang sepanjang ribuan hektar dimulai dari kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, daerah tersebut dinamakan penduduk setempat dengan Kubang Gajah, kunjunganku kali ini demi mendengar kabar seekor Gajah telah mati, menurut cerita peladang mati karena makan Pupuk. Saipul salah seorang buruh tani menerangkan kematian Gajah itu di rahasiakan para peladang, bagiku kuat dugaan kematian Gajah itu karena sengaja diracun.
Siang nan terik di bulan Ramadhan, aku mencari lokasi bangkai Gajah, tak seorang pun peladang yang bersedia mengantarkan atau memberi petunjuk dimana lokasi bangkai gajah tersebut mereka takut menjadi penghubung kematian gajah itu dengan orang luar, jadilah aku berkeliling di rimba yang telah gundul itu mencari titik lokasi bangkai Gajah, tapi nihil hingga sore menjelang aku tak menemukan lokasinya.
Sulit bagiku untuk mengatakan gajah yang mati itu akibat memakan pupuk, gajah dalam perilaku sehari-harinya adalah mamalia yang memiliki pendengaran tajam insting yang kuat dan cerdas dalam mencari makan, tidak akan semudah itu mereka menuju ke pondok peladang lalu memakan tumpukan pupuk, kawanan gajah liar cenderung menjauh dari manusia, jadi dugaanku bahwa gajah tersebut mati karena di racun.
Beberapa hari setelah kunjunganku ke kubang gajah, di salah satu TV Swasta menayangkan berita kepunahan gajah di kawasan hutan kabupaten Kuantan Singingi, dari program TV itu pulalah dugaanku tepat tentang kematian gajah tersebut karena di racun, sebagaimana yang diberitakan dalam program tersebut, berdasarkan informasi petugas kehutanan setempat bahwa gajah tersebut mati karena memakan tanaman yang sudah diracun oleh peladang. Diketahui populasi gajah pada tahun 2005 berjumlah sekitar enam ribu ekor, hingga kini lebih kurang Tinggal tigaratus ekor atau bahkan lebih kecil lagi jumlahnya.
Pembalakan liar dan pembukaan areal perkebunan besar-besaran oleh warga kampung membuat ring perburuan gajah semakin sempit, sebuah perusahaan perkebunan swasta di sekitar kawasan Kubang Gajah juga pernah kesulitan mengatasi gajah-gajah yang memakan pokok kelapa dan kelapa sawit mereka, dari itu saja tidak terhitung jumlah pasti berapa ekor yang telah mati di bunuh atau di racun, belum lagi perburuan gajah yang dilakukan oleh orang-orang tertentu untuk mendapatkan gading atau mani gajah yang dikenal dalam mistik mempunyai manfaat yang banyak untuk dijadikan pegangan, ditambah lagi semenjak warga membuka areal tersebut ratusan hektar pepohonan ditumbang habis kemudian ditanami kelapa sawit, dan gajah-gajah dibunuh karena memakan tanaman mereka.
Seorang pegawai kehutanan yang kutemui secara sadar membenarkan bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi gajah, dengan status lahan HSAW (Hutan Suaka Alam Wisata) yang dengan sengaja pula di buka oleh warga dan kayu-kayu hasil tebangannya dijual, dari keterangan Lugimin salah seorang peladang pada era pemerintahan Megawati kawasan tersebut pernah di canangkan menjadi daerah transmigrasi entah dengan alasan apa, seharusnya hutan di Kubang Gajah tidak di buka seluas yang terjadi sekarang ini.
Berdasarkan pemantauanku sebelum tahun ini areal yang telah dibuka oleh warga tersebut tidak sepenuhnya milik penduduk setempat, bahkan setelah di hitung-hitung jumlah KK (Kepala Keluarga) di desa Sungai Besar yang mengakui bahwa kawasan tersebut adalah tanah ulayat mereka, jumlahnya tidak lebih dari duaratus KK, andaipun semua kepala keluarga membuka kawasan hutan tersebut untuk dijadikan sumber mata pencaharian baru maka tidaklah sepantasnya membuka ribuan hektar kawasan hutan, dari pemantauan ternyata areal yang di buka tersebut telah diperjual belikan kepada penjabat negara, ada yang di jual kepada pegawai dinas perpajakan nasional, kepada perwira tinggi aparat, kepada konglomerat, bahkan ada pula yang di jual kepada Bupati provinsi tetangga.
Terlepas dari semua kepentingan tersebut, yang jelas nasib gajah sumatera di pedalaman kabupaten Kuantan Singingi sedang diambang kepunahan, baik oleh kepentingan politik maupun tuntutan rakyat yang ingin mendapat penghidupan layak dari kawasan tanah ulayat mereka. Harus ada yang bisa menyelesaikan konflik ini dengan baik dan benar, sebelum gajah-gajah itu punah.

0 comments