Dedaun nan Berbisik

kompas musafir
Empat mobil bergerak pelan beriringan mengarah ke pelosok kampung Laba Labe, jalan tanah berbatu diasapi debu berterbangan, jalan yang biasanya sepi itu, kali itu dibising deru mesin kendaraan pantul memantul di kehijauan Rimba dan tebing, Hor mengamati dengan cermat suara itu kemudian memanjat sebatang pohon, diatas dahan dicobanya memaku gerak kendaraan, pandangannya tak berkedip hingga iring-iringan itu hilang ditelan tikungan lebat, tak lama kemudian Hor berlari sekencang mungkin menuju Genah1 kakinya yang lincah melompat seperti anak kijang.
Pagi menjelang siang itu Genah  Orang Kubu sepi kaum lelaki, yang tinggal hanya perempuan dan anak-anak yang usianya lebih kecil dari Hor, selama Genah tidak dihuni kaum lelaki Hor punya tanggung jawab melindungi kelompok itu dari “kecurigaan”, kecepatan kaki Hor melambat di depan sebuah Genah, terlihat Idar sedang asik menjalin manik-manik dari biji jali2, melihat Hor Idar berhenti.
Mangapo kamu lari”
“Ado oto masuk”
“Cubo kamu tengok di topian tu nak kemano ughang tu”
Hor mencabut sebatang tombak lalu bergegas ke tepian sungai, mengamati siapa yang datang dan hendak kemana tujuan mereka.
Sampai di tepian sungai Hor mengintai di atas sebatang pohon, sendiri matanya liar menangkap suara dan gerak dahan, lama dia disitu. sekitar satu jam dia tak mendengar tanda apa-apa, kemudian turun menyisir tepian sungai.
Sepeninggalan Hor Idar dan perempuan lainnya bergegas memakai pakaian dan perhiasan yang mereka punya, pakaian dan perhiasan dipakai ketika mereka ke kampung atau menerima tamu dari “Orang Luar” seperti yang diperkirakan saat itu.
Iring-iringan empat buah mobil itu akhirnya tiba di kampung Laba Labe, setelah menembus rimba lebat dan jalan berlumpur, kampung Laba Labe yang dihuni lebih kurang  52 kepala keluarga itu tampak sibuk mempersiapkan upacara penyambutan, sesajen telah disiapkan di salah satu rumah penduduk guna menyambut kedatangan tamu agung itu, seperti yang di kabarkan wali nagari beberapa hari sebelum itu bahwa wakil bupati Dharmapada akan datang berkunjung ke kampung yang letaknya sangat terpelosok itu.
Anak-anak Sekolah Dasar di dandani sedemikian rupa, hari itu kampung Laba Labe meriah, sebagian laki-laki tidak pergi ke ladang atau ke rimba mencari kayu balok, hari yang spesial itu akan di gunakan untuk menyampaikan keluhan masyarakat kepada salah seorang pengayom kabupaten Dharmapada itu, sementara itu tidak jauh dari kampung Laba Labe Hor sebenarnya juga sedang menanti iring-iringan itu di tepian sebuah sungai. Penantian yang bermakna lain.
Di Genah Idar sibuk merapikan berbagai hal, kuali panci dan perkakas masak lain yang masih berisi sisa masakan pagi, Gadih Dewi yang lebih muda tiga tahun dari Hor sibuk pula membantu Idar mengemasi peralatan lain di sekitar Genah.
Kito tak boleh tampak kumuh, bersihkan galonyo
“Hayo cepat, sebelum mereka tibo
Kesibukan mendadak penghuni Genah berlangsung beberapa lama sehingga tak terasa matahari mulai tinggi, cahayanya menusuk ubun-ubun pepohonan, di Rimba yang lebat itu Hor menikmati penantiannya sambil melepas dahaga dengan minum air Sungai Sipotau, dia kembali ke posisi semula berjongkok di sebuah dahan, memasang pendengarannya yang tajam dan penghilatannya yang jernih.
Setelah sekian lama mengintai tidak juga ada tanda-tanda iringan kendaraan itu mendekat, Harapan Hor mulai pudar, hingga siang itu iring-iringan kendaraan itu tidak jua menepi di jalan setapak menuju Genah mereka, Hor mulai putus asa turun dari dahannya berjalan lunglai kembali ke Genah.
Menemui muka lusuh Hor, Idar paham tamu yang diharapkan itu tidak akan datang ke Genah mereka, kembali dia menjalin biji jali untuk dijadikan perhiasan.
Genah 1 : Sebutan Pondok bagi Suku Anak Dalam, istilah lainnya Pesudongon
Biji Jali 2 : Biji dari tumbuhan famili padi-padian, tanaman ini banyak tumbuh liar di hutan.

0 comments