Pondok Windows


kompas musafir

Pondok windows terlihat megah dari camp kami, aku menamakan pondok windows sebab dari kejauhan rupanya mirip dengan salah satu Screenshoot raja perangkat lunak sedunia itu, diatas gundukan bukit hijau itu berdiri sebuah pondok, aku menamakannya dengan pondok windows, pondok itu menyajikan pemandangan lepas kesegala penjuru, hamparan biru pepohonan berbatas ujung langit, siang kala terik menerpa aku sering bermalas-malas di pondok Windows, dibuai hembusan angin, burung layang terbang disekelilingnya mengitari padang ilalang, pekerja Milhona sepertinya kurang suka menikmati pemandangan seperti ini, atau karena mereka memang tidak pernah punya waktu untuk sekedar menikmati kehijauan yang ada di sekelilingnya.
Pondok Windows melahirkan kisah-kisah padaku, keberadaannya mampu melepas segala macam kepenatanku, selain itu sinyal GSM juga tersedianya di pondok itu sehingga lebih leluasa untuku mengakses internet melalui phonsel, aku suka menulis cerita dipondok itu, berkawankan burung-burung dan serangga kecil.
Nasib pekerja mula kutulis diatas pondok Windows, keragaman suku bangsa di kubang gajah memperkaya khasanah pedalamanku, menurut Lek Min pondok Windows mulanya dua tingkat, lebih besar dari keberadaannya waktu itu, pada suatu hari terbakar karena seseorang lupa mematikan lampu teplok ketika kawanan Gajah mengamuk di ujung kebun Milhona, lek Min tidak menceritakan detail kejadiannya, setelah peristiwa itu juragan perintahkan lek Min membangun pondok sederhana seperti sekarang ini.
Sewaktu-waktu aku suka mengajak Wahyu belajar membaca di pondok Windows, pemandangan lepas membuat kami nyaman belajar di tempat terbuka itu, untuk anak seumur lima tahun seperti wahyu bagiku luar biasa, wahyu tidak terikat apapun ketika menanyakan warna-warna daun, yang lebih dalam lagi ketika dia menanyakan soal asupan makanan pada serumpun Gulma, aku mengira pertanyaan itu muncul ketika dia melihat orang tuanya menabur pupuk di sekitar pokok sawit. Setelah aku mengundurkan diri dari perkebunan Milhona hatiku gundah, bagaimana jadinya nasib anak-anak di camp Milhona tanpa asupan Ilmu pengetahuan diusia mereka yang sangat dini.

dikutip dari catatan - "Pulau-pulau Asap"

0 comments