Orang-orang Hitam


kompas musafir


Liburan sekali setahun itu dinikmati pekerja Milhona dikampung masing-masing, hanya pak Co dan mas Sidik yang tidak berlibur dikampungnya, produksi buah harus tetap jalan demikian ungkap pak Co suatu hari, aku masih ingat betul penjelasan pak Co waktu itu, bahkan pada hari raya idul fitri itu sorenya pabrik tetap beroperasi, moment yang seperti itu tidak akan dibuang oleh jaragan, sehingga bagi siapa yang bekerja pada libur lebaran itu akan mendapat upah yang lebih dari pada hari biasanya, satu tandan sawit diupah enam ratus rupiah lebih dua ratus rupiah dari hari biasa.
Rahmat menikmati lebaran idul fitri di kampung Cisewu di jawa barat, orang-orang dikampungnya menganggap Sumatera itu gudangnya uang, pendapat itu berbanding lurus dengan pendapat Jaragan bahwa orang-orang di pulau jawa butuh pekerjaan, situasi liburan itu di manfaatkan Jaragan dengan sebaik mungkin untuk merekrut pekerja sebanyak banyaknya, Rahmat salah satu pintu untuk maksud itu, pada suatu hari Jaragan menghubungi Rahmat melalui telepon seluler dengan maksud agar Rahmat menyediakan tenaga sebanyak limapuluh orang, pada situasi yang bahagia itu Rahmat menyanggupi, maka tidak lama setelah itu terkumpullah sejumlah orang yang siap berangkat ke Sumatera.
Prosedur keberangkatan pekerja itu tidak seperti yang diduga Rahmat, Jaragan tidak pernah mengirimkan uang transportasi ke rekening Rahmat, pada kemudian hari diketahui uang transportasi itu dikirim ke rekening salah seorang keluarga Jaragan di Bandung, sehingga dari Cisewu menuju Bandung para pekerja itu memakai uang sendiri untuk ongkos perjalanan, hari itu di bulan September 2011 di Terminal bus Leuwipanjang Bandung, Rahmat bertemu dengan orang yang memegang kendali penuh keuangan serta ongkos perjalanan untuk para pekerja yang telah dikumpulkan Rahmat.
Terminal Bus Leuwipanjang, ketika para pekerja siap berangkat menuju Sumatera, Rahmat menyerahkan uang kepada masing-masing pekerja sebanyak tiga ratus ribu rupiah, itu biaya selama perjalanan menuju Sumatera, tepatnya menuju Camp Milhona, mungkin sekitar lima belas menit Rahmat memegang uang itu lalu kemudian beralih ke tangan para pekerja, peristiwa keberangkatan hari itu menjadi penting bagi Rahmat pada suatu hari nanti di Kubang Gajah.
Rahmat orang yang merekrut beberapa pekerja dari Cisewu tidak berangkat hari itu bersama para pekerja yang telah dikumpulkannya, dia memutuskan akan berangkat pada tanggal 21 September 2011, keputusan itu membuat Rahmat melewati episode apik yang terjadi setelah kedatangan para pekerja dari Cisewu itu di Camp Milhona.

Dikutip Dari Catatan Pulau-pulau Asap.

Pondok Windows


kompas musafir

Pondok windows terlihat megah dari camp kami, aku menamakan pondok windows sebab dari kejauhan rupanya mirip dengan salah satu Screenshoot raja perangkat lunak sedunia itu, diatas gundukan bukit hijau itu berdiri sebuah pondok, aku menamakannya dengan pondok windows, pondok itu menyajikan pemandangan lepas kesegala penjuru, hamparan biru pepohonan berbatas ujung langit, siang kala terik menerpa aku sering bermalas-malas di pondok Windows, dibuai hembusan angin, burung layang terbang disekelilingnya mengitari padang ilalang, pekerja Milhona sepertinya kurang suka menikmati pemandangan seperti ini, atau karena mereka memang tidak pernah punya waktu untuk sekedar menikmati kehijauan yang ada di sekelilingnya.
Pondok Windows melahirkan kisah-kisah padaku, keberadaannya mampu melepas segala macam kepenatanku, selain itu sinyal GSM juga tersedianya di pondok itu sehingga lebih leluasa untuku mengakses internet melalui phonsel, aku suka menulis cerita dipondok itu, berkawankan burung-burung dan serangga kecil.
Nasib pekerja mula kutulis diatas pondok Windows, keragaman suku bangsa di kubang gajah memperkaya khasanah pedalamanku, menurut Lek Min pondok Windows mulanya dua tingkat, lebih besar dari keberadaannya waktu itu, pada suatu hari terbakar karena seseorang lupa mematikan lampu teplok ketika kawanan Gajah mengamuk di ujung kebun Milhona, lek Min tidak menceritakan detail kejadiannya, setelah peristiwa itu juragan perintahkan lek Min membangun pondok sederhana seperti sekarang ini.
Sewaktu-waktu aku suka mengajak Wahyu belajar membaca di pondok Windows, pemandangan lepas membuat kami nyaman belajar di tempat terbuka itu, untuk anak seumur lima tahun seperti wahyu bagiku luar biasa, wahyu tidak terikat apapun ketika menanyakan warna-warna daun, yang lebih dalam lagi ketika dia menanyakan soal asupan makanan pada serumpun Gulma, aku mengira pertanyaan itu muncul ketika dia melihat orang tuanya menabur pupuk di sekitar pokok sawit. Setelah aku mengundurkan diri dari perkebunan Milhona hatiku gundah, bagaimana jadinya nasib anak-anak di camp Milhona tanpa asupan Ilmu pengetahuan diusia mereka yang sangat dini.

dikutip dari catatan - "Pulau-pulau Asap"