Mencari Jejak Kubu

kompas musafir

Pagi Jumat pukul 9.30 WIB, kami berangkat dari Posko PEDULI menunggang kuda merah Revo, menuju hutan sebalah barat kabupaten Dharmasraya tujuan kami mencari Suku Anak Dalam yang bermukim di Genah (Pondok)dalam rimba, sekaligus menyampaikan pesan mak Marni kepada sanak saudaranya di rimba sana, pencarian ini sekaligus Orientasi medan sebelum kami melakukan kegiatkan “Sahabat Belajar anak Rimba”.

Erna (7) salah seorang anak Suku Anak Dalam telah dirawat seminggu lebih di Rumah Sakit Pulau Punjung, ketika kami menjemputnya di Bulangan Erna dalam keadaan yang sangat lemah lalu kami memawanya kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif (Maunya begitu), seminggu sudah Erna berada dalam penanganan Medis keadaannya semakin membaik namun belum diketahui kapan pastinya dibolehkan keluar dari rumah sakit, Minggu kedua berikutnya keadaan Erna kembali Buruk, HB darahnya turun drastis menjadi enam, hal ini membuat dokter anak merujuk Erna ke rumah sakit Umum M.Djamil Padang, pada hari minggunya Erna diberangkatkan ke Padang bersama dua orang kawan kami yang lain. Tinggallah beberapa orang dari anak-anak Peduli yang mengurus hal lain di posko, termasuk aku. Sepeninggalan kawan-kawan itu aku bersama seorang teman melanjutkan rencana, mengunjungi Genah-genah Suku Anak Dalam di beberapa titik lokasi. Salah satu titik pencarian kami adalah kecamatan IX Koto, kampung Silago dan Padang Hilalang.

Menurut salah seorang kawan lokasinya di Kecamatan IX Koto, kecamatan itu berbatasan dengan kabupaten solok dan kabupaten solok selatan, sebelah barat kabupaten Dharmasraya ini masih di huni hutan lebat, rimbanya masih asri banyak hewan yang masih hidup disana, tapi sepertinya hutan itu tidak lama lagi akan di hantam habis pula seperti yang diberitakan di beberaa media lokal, bahwa di kecamatan itu akan dibuka pertambangan bijih Besi.

Siang selesai Sholat Jumat kami sampai di Silago, ibu kecamatan IX Koto, kuda merah kami terus melaju hingga kampung Padang Hilalang, lokasi Genah Suku Anak Dalam yang kami temui disana sepertinya sudah lama ditinggal, kayu-kayu yang dijadikan tonggak genah telah pula berpucuk, tidak di temui jejak kemana arah mereka melangkah, pada akhirnya kami harus bertanya kepada penduduk yang kebetulan berpasan dengan kami, jawaban mereka pun beragam, ada yang menyebutkan ke arah hutan Buga, batang Sipotau, hingga kawasan hutan PT. BRM.

Jejak Suku Anak Dalam mulai kabur, hari beranjak gelap, dalam senja kami menyisir jejak mereka hingga blok C pedalaman transmigrasi padang hilalang, nihil, keterangan dari penduduk disana mengatakan mereka beranjak dua hari yang lalu dari hutan di belakang sebuah rumah penduduk, mereka menuju batang Simpola, hingga azan Magrib kami telah mendapat informasi keberadaan mereka di hutan sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten solok selatan atau mungkin telah masuk ke pedalaman solok selatan. batang Potau (Sungai Potau) harus ditempuh dengan berjalan kaki, waktu kami tidak selapang itu untuk mengikuti jejak, jelang malam kami beranjak dari Padang Hilalang, kembali ke arah semula kami masuk, tepatnya di kampung Banai.

Di rumah Haji Ramandes kami menginap malam itu, keadaan itu dipilih untuk menghemat pengeluaran juga, malam itu orang-orang sedang ramai di rumahnya, rupanya sedang mengerjakan pembangunan rumah. Dirumah Ramandes kami menyusun rencana bahwa besok kami akan berangkat ke sungai Botung, pedalaman kampung Silago sebelah selatan, kata penduduk yang kami tanyai sungai itu bersebelahan dengan kawasan transmigrasi Padang Hilalang, asumsi kami diperkuat oleh beberapa penduduk Padang Hilalang yang mengaku melihat mereka ke arah sungai Botung.

Pagi hari sabtu/11 februari 2012, kami menembus kabut tipis yang masih bermanja di helai ranting ranting pohon hutan, setelah menembus hutan lebat itu hasilnya nihil juga, kami tidak menemukan jejak apa-apa.

Rencana berikutnya kami melakukan pencarian ke pedalaman PT.BRM, tidak ada informasi apapun sebelumnya, kami berasumsi areal BRM merupakan salah satu tempat perpindahan Suku Anak Dalam, setelah melewati dua pos penjaga, jelang siang kami sampai di salah satu kedai dalam areal pertanaman Akasia PT.BRM, kami singgah sebentar memesan dua gelas kopi, menanyakan kepada pekerja setempat tentang keberadaan suku anak dalam di areal perkebunan tersebut, tapi nihil juga, informasi apapun tentang Suku Anak Dalam tidak pernah berdengung di camp-camp pekerja, di kedai itu juga aku tahu bahwa areal perkebunan Akasia itu berada dalam wilayah teritorial kabupaten Solok Selatan.

Sekitar setengah jam kemudian kami berangkat, memutuskan untuk menyusuri jalan hingga penghujung jalan baru, Truck trailer lalu lalang disepanjang jalan tanah menyisakan debu-debu kuning menyesakkan mata dan dada, kuda merah melaju kearah selatan hingga ke jembatan batang sipotau, tapi itu bukan ujung jalan, hingga areal pertanaman akasia terkahir kami memutuskan untuk mengikuti jalan baru yang sedang di kerjakan PT.BRM tersebut, menurut informasinya jalan itu akan di tembus hingga ke solok selatan, tidak tahu pasti di kampung mana tepatnya ujung jalan itu.

Kiri kanan jalan baru itu terpasang papan peringatan dari dinas kehutanan, yang menjelaskan bahwa kawasan tersebut berada dalam status kawasan lindung, kalau dikatakan aneh, mungkin, di kawasan hutan lindung bisa di bangun jalan untuk perkebunan, kendatipun tujuan jalan itu adalah akses ke areal yang diberi izin oleh negara kepada pihak swasta untuk mengolahnya menjadi kebun, tapi tidak ada jaminan kawasan sekitarnya atau bagian pedalaman akan ditebangi juga oleh pihak-pihak lain. Lebih tepatnya ini mungkin salah satu strategi pihak swasta untuk memperluas areal perkebunan mereka sembari mengulur waktu untuk sekian tahun mendatang.

Sepanjang jalan kami menemukan aneka macam alat-alat berat, siang sabtu cuaca panas tampak operator alat berat bermalas-malas dalam ruang kendali mesin, salah seorang operator yang kami temui mengaku tidak pernah melihat kemah Suku Anak Dalam, dari logat bahasanya ku tahu bapak itu berasal dari Sumatera Utara, dalam penjelasannya semua pengerjaan jalan itu bekerja sama dengan PT.RAPP Pekan Baru, kami terus hingga keujung jalan, dihujung jalan jawaban operator lain yang kami tanyai tetap sama, tidak pernah melihat keberadaan Suku Anak Dalam.

Dalam perjalanan pulang dibawah jembatan sungai Sipotau aku melihat Excavator sedang bekerja memindahkan tumpukan Batu, tapi itu tidak menarik perhatianku, sejumlah ibu-ibu yang sedang mendulang emas di bawah excavator yang sedang beroperasi itulah yang mengundang kami untuk turun kebawah jembatan, mengambil beberapa gambar dan menanyakan beberapa hal kepada ibu-ibu itu.

Puas bertanya jawab dengan perempuan-perempuan tangguh itu kami melanjutkan perjalanan pulang, pencarian suku anak dalam selama dua hari itu nihil, tapi dalam hati aku tetap berniat untuk menyampaikan pesan mak marni kepada mereka, jika hari itu kami tidak menemukan mereka pada hari lain kami akan membuat jadwal untuk mengulang pencarian tersebut.

0 comments