Biola Tak Berdawai


kompas musafir


Hujan deras turun malam itu, langit seperti hendak runtuh petir halilintar murka membelah langit, dari kunsen pintu sayup-sayup tangis Mirna menambah berat malam, menembus deras hujan hingga terdengar ke persimpangan jalan, tergesa-gesa Presto mengemasi satu persatu pakaiannya, memasukan kedalam koper butut. Sederas apapun tangisan Mirna Presto harus berangkat malam itu, perbedaan agama semakin meruncing di usia pernikahan mereka yang telah berjalan lima tahun, pada akhirnya Presto harus menempuh jalannya sendiri, meninggalkan segala kenangannya dengan Mirna selama lima tahun mereka menikah, bagi Presto ini seperti pil pahit yang ditelan paksa. Dalam hujan lebat Presto membuka pagar halaman meninggalkan pondok tanpa mengeluarkan sepatah katapun, pekat malam menyelimuti jalan Presto yang belum menentukan tujuannya.
Tinggal Mirna sendiri meratapi perpisahan itu, kelambu usang tempat mereka biasa berkumpul berayun ditiup angin, “Aku sangat mencintaimu dik, meski saat ini kau tak paham dengan jalan pikiranku, percayalah suatu saat kau akan memahami juga” kalimat itu masih terngiang di telinga Mirna siang sebelum Presto benar-benar melaksanakan maksud kepergiannya.
Dalam deras hujan, malam terus berlayar sesuai takdirnya, peristiwa apapun yang terjadi dibelahan bumi ini dibawanya serta mengarungi lautan gelap menuju dermaga pagi, tangisan Mirna, deru kendaraan di jalan, nyanyian burung malam di rimba raya, hujan yang lebat, semuanya ikut tanpa kecuali, tak pandang siapa, sekali sauh diangkat seberat apapun takdir akan senantiasa dibawa serta, Tuhan menciptakan malam dengan kekuatan yang Maha dahsyat, semua yang ikut dalam pelayaran itu menuju satu titik, waktu pagi, meski nantinya ada pula pagi yang mendung, hujan dan cerah, malam tak peduli, pagi Diciptakan Tuhan untuk sebuah awal, awal yang baik maupun yang buruk semua itu dijalani takdir masing-masing.
Malam tak berdiri sendiri, disisinya Bulan teman setia, kadang bulan muncul kadang tidak, sesuai pula dengan rotasinya mengelilingi tata surya, dalam semua itu peristiwa-peristiwa terjadi di bumi, halnya dengan nasib Presto malam gelap menyelubung nasibnya dari tiupan angin, dari aroma rumput untuk suatu saat diceritakannya kepada juru tulis di rimba Kubang Gajah.
*
Siang itu matahari membakar pelepah-pelepah sawit, siang yang ganas di Riau pedalaman, seperti tak menghiraukan terik mentari lek Min terus saja mengayunkan parangnya, memotong ranting hangus sisa-sisa pembakaran, tangan dan mukanya hitam terkena arang, kayu-kayu ranting itu pengganti minyak tanah di dapur lek Min, di pedalaman tidak mudah memperoleh bahan bakar minyak, andaipun ada harganya dua kali lipat dari harga yang semestinya. Aku duduk mencangkung di bawah kanopi sawit menghindari terik yang membakar itu.
Telah tiga hari ini aku mengikuti lek Min mencari kayu bakar di sekitar perkebunan tempat kami bekerja, selama tiga hari itu pula aku belum tahu apa-apa tentang pekerjaanku yang sebenarnya, Manager dan Asisten kebun menyuruhku berjalan-jalan saja selama satu minggu kedepan.
“Sampean aslinya orang mana”, kalimat lek Min memecah sunyi.
“Saya orang Minang pak, daerah asal saya Dharmasraya”, jawabku sambil terus memerhatikan ayunan parang lek Min.
“Di sini tidak banyak orang Minang, kebanyakan dari suku jawa Madura”, lanjutnya tanpa menoleh.
“Ini kali pertama saya bekerja di kebun pak lek, buta dan tak tau apa-apa tentang perkebunan”, ungkapku pula.
“Kabarnya pak Manager akan keluar dari kebun ini”,
Oh, kalau tentang itu saya tak tau pak lek, saya juga kenal pak Manager disini”,
“Sebenarnya dikebun ini yang penting itu kita kerja sama, jangan saling menjatuhkan, umur sawit ini seumur dengan kerja saya di kebun ini”, sambil terus mengayunkan parang lek Min membuka cerita.
“Kira-kira umur kebun ini telah berapa lama pak lek?”,
“Ya… kurang lebih sepuluh tahun,”
“Ayo kita ke camp, kayu bakar ini cukup untuk tiga hari”, ajakan lek Min mengakhiri pembicaraan kami siang itu.
Lek Min tidak tinggal di camp kami, istrinya pekerja panen di Afdhelling III cokelat karena itu lek Min tinggal di camp Afdhelling III cokelat, sepuluh tahun lalu beliau PK (Penjaga Keamanan) Gajah di perkebunan TBS, merasa nasib tak berubah lek Min memutuskan untuk berhenti dan bekerja di perkebunan Milhona, dari tempat aku bekerja sekarang sekitar satu kilo ke camp Afdhelling III cokelat, di Milhona lek Min masih menduduki jabatan yang sama, PK Gajah.
Perkebunan Milhona seluas dua ratus hektar yang telah di tanami pokok sawit, total luas tanah garapan seluruhnya enam ratus hektar, jalanan diperkebunan ini di kerjakan tenaga manusia, tidak seperti jalanan di perkebunan lain yang dibuat dengan alat berat, lima belas tahun lalu para pekerja didatangkan dari tanah jawa dan lampung untuk mengupas-ngupas kulit Bumi menjadikannya jalan poros dan jalan pringgan1 perkebunan.
Siang menjelang sore itu peladang dari desa ramai berlalu lalang di perkebun Milhona, diatas sepeda motor mereka menyapa lek Min, kemudian hari baru aku tau mereka itu peladang yang telah menebang hutan untuk dijadikan ladang jauh hingga ke pedalaman perbatasan Riau dengan Jambi. Salah seorang dari mereka yang kupikir cukup mengenal lek Min secara pribadi menghentikan sepeda motornya.
“Amboi!! lek Min hendak mengadakan hajatan rupanya, jangan lupa mengundang kami”, kata bapak itu sambil mematikan mesin sepeda motor.
Dengan nafas yang belum diatur lek Min menurunkan kayu bakar dari junjungannya.
“Wah, siapa bilang saya mau hajatan ini cuman untuk kayu bakar, persediaan di dapur sudah habis”, jawab lek Min masih dengan nafas tersengal-sengal.
“Gimana ladangnya! Sudah jadi”, lanjut lek Min sambil mengusap keringat di dahi.
“Belum sepenuhnya masih ngancak2, sekarang kami sedang memesan bibit sawit”.
“Nanti malam saya ke pondok ya, minta ubi bakar, sekarang mau ke camp dulu kasihan orang dirumah nanti mau masak tak ada kayu”, ungkap lek Min.
Laki-laki itu mengangguk sambil tersenyum, sekilas dia memandang ke arahku masih dengan senyum yang ditabur, tapi jelas dibalik senyum itu dia menelanjangiku.
Matahari telah sedikit condong ke Barat cahayanya mulai melemah, kami memintas jalan kedalam pokok-pokok sawit, cahaya lemah itu menciptakan bayang-bayang pelepah sawit seperti jarum di tanah, siap menusuk telapak kaki kami.
Sore menjelang senja Mentari melembutkan sinarnya di Kubang Gajah, menyiram atap-atap camp, pondok-pondok peladang, bgitu pula dengan hutan-hutan yang tersisa di Kubang Gajah yang tak ubahnya seperti pulau-pulau kecil tak berpenghuni, beronggok-onggok, di Kubang Gajah ratusan peladang tersebar di segala sudutnya, dari keterangan lek Min pula aku mengetahui Hutan perawan ini telah ditumbang habis oleh manusia hanya dalam waktu lebih kurang lima tahun.
Camp Milhona orang-orang disini menyebutnya, pemilik kebun mengambil nama putri sulungnya, orang-orang yang bekerja di perkebunan ini disebut pekerja Milhona termasuk aku. Senada yang diperkatakan lek Min, pekerja di Milhona terdiri dari berbagai suku, minang, jawa Madura, Lampung, Sunda, Batak, Karo, Nias, beberapa dari mereka adalah bangsa lain, orang-orang asing peranakan Korea Utara dan Thailand, juragan sendiri mungkin tidak tau banyak tentang asal-usul pekerjanya.
Aku ingat ketika pertama kali datang di camp Milhona, aku disambut pak Beno, barang-barang bawaanku di tumpangkan sementara di bilik pak Beno, malamnya pak Beno membawaku ke sebuah bilik yang menurutnya akan menjadi tempatku, ingatanku langsung melayang kepada film Schinderlist, bilik-bilik camp pengap tempat eksekusi bangsa Yahudi.
“Disini nanti kamu tinggal”, terang Beno sambil menguak daun pintu.
Pandanganku tertuju ke bawah, lantai separoh tanah separoh semen, bilik itu tanpa jendela, melihatku diam Beno seakan paham dengan kebingunganku.
 “Didepan pintu pak Joko ada satu sak semen, besok siang kamu boleh mengaduknya plester sendiri lantai ini, kami semua melakukan hal yang sama ketika pertama kali datang kesini”, jelas Beno.
“Oh ya, untuk dipan kamu bisa bikin sendiri, didepan gudang ada setumpuk papan nanti saya beri paku, kamu bisa membuat dipan sendiri sesuai seleramu”, lanjut Beno tanpa memerhatikan air mukaku yang mulai masam.
Aku diam saja.
“Malam ini kamu boleh menginap di bilik saya”, lanjut Beno yang mulai menjelma seperti seorang Developer gagal memenangkan tender.
Senja menjelang malam orang-orang di camp sibuk, asap mengepul dari bilik dapur masing-masing, anak-anak berlarian kesana kemari, hari pertama itu aku mahfum orang-orang di camp Milhona mandi diselokan kecil, mencuci dan buang berak juga ditempat yang sama, hari sesenja itu aku tak mendengar suara Azan berkumandang, ketika Yanto, operator lampu menyalakan listrik, orang-orang di camp berkumpul di depan TV 21 Inch, menonton sinetron kesukaan mereka.
Hari ketiga di camp Milhona aku masih tidak tau harus melakukan apa, mengaduk semen, jelas aku tak pernah melakukannya, memaku papan menjadikannya dipan juga tidak aku lakukan, jadilah ketika malam hari-hari pertama itu aku tidur bersama lek Min di pondok pengintai, sekaligus menemani beliau PK malam, rutinitas yang selalu dilakukan lek Min, diatas pondok pengintai lek Min mengawasi gajah agar tak masuk ke areal perkebunan sawit Milhona.
Perumahan camp Milhona sangat rapat, pintu-pintu saling berhadapan jaraknya tak lebih dari satu setengah meter, diantara pintu yang berdahapan itu berbaris kursi kayu, tempat orang-orang camp duduk manis menonton sinetron kesayangan mereka, ada dua rumah yang menjorok ke bawah, tepat di tengah-tengah camp terapat semacam gelanggang, disanalah anak-anak suka bermain dan kejar-kejaran.
Jelang malam itu aku duduk di kursi baris menanti lek Min, anak-anak camp main mobil-mobilan dari pelepah sawit dan karet sandal, asik sekali mereka bermain, untuk satu alasan yang cukup tepat anak-anak tidak pernah bermain jauh dari camp, lingkungan perkebunan dihuni berbagai hewan-hewan berbisa, ular Cobra, lalat penghisap darah, Babi dan mereka yang lainnya, orang tua mereka tidak pernah melarangnya tapi itu larangan alami, naluri anak-anak tentang bahaya di sekitarnya.
Camp Milhona salah satu dari puluhan camp yang tersebar di rimba Kubang Gajah, kontur tanahnya yang landai menjadikan daerah ini tempat yang strategis untuk suaka Gajah, selama yang aku amati tak satupun anak-anak di Kubang Gajah yang menduduki bangku sekolah, kecuali satu anak juragan Milhona, mengamati perkampungan disini rasanya melihat kehancuran didepan mata, sopan santun orang-orang dari berbagai suku disini tak kurang dari kesopanan adat manapun, ketidakmengertian mereka tentang pentingnya melestarikan hutan dan segala isinya entah kepada siapa harus dipertanggung jawabkan, Kubang Gajah kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan provinsi Jambi, setiap hari bimbang dalam nilai tawarnya.

1) jalan pringgan : jalan sekunder penghubung antar blok dalam istilah perkebunan
2) Ngancak (Ancak perun) : membersihkan tebangan pohon sisa-sisa pembakaran.

0 comments