Hutan Setumpak


kompas musafir
(Courtesy Image by Fadli private collection)
Pagi itu matahari belum sepenuhnya memanaskan tanah bumi, burung-burung terdengar ramai berkicau di balik sosok hutan, aneka ragam kicaunya, rumput ilalang dipinggir jalan masih bermandi embun pagi ketika Bujang bagak berjalan sendiri menuju kampung Sungai Besar, jalannya tidak tergesa, sorot matanya tajam seperti hendak menembus kabut yang masih menyelimuti punggung bukit kubang gajah, para peladang dari kampung telah banyak pula berselisih jalan dengan Bujang bagak, mereka yang masih mengingat Bujang bagak ikut menyapa, tapi dijawab dengan dingin, ketajaman matanya seakan tak surut oleh sapaan itu, beberapa waktu lalu salah seorang kerabat Bujang bagak mengabarkan sepetak hutan miliknya telah di tumbang penduduk Sungai Besar, sebab itu pulalah Bujang bagak memutuskan untuk keluar dari hutan huniannya yang berjarak seratus kilometer lebih dari kampung Sungai Besar, demi mendengar kabar yang sangat meremehkannya itu.
Aku menurunkan laju motor, menatap punggung bujang bagak sambil terus memperhatikan gerak langkahnya, sadar seseorang memerhatikan punggungnya Bujang Bagak berpaling mendapatiku pelan-pelan mengendarai motor, agar tak menimbulkan curiga berlarut aku menyapanya. Bujang bagak adalah salah seorang kepala suku kubu di pedalaman Riau, hidup dalam jumlah kelompok yang banyak, nomaden, mereka berpindah pindah ketika salah seorang dari sukunya meninggal mereka akan mencari hutan baru, hidup dari berburu dan bertanam sayur-sayuran, setiap hari hutan tempat mereka menggantung hidup berkurang, yang aku tahu suku primitif ini hanya menjadi ladang penelitian bagi kalangan akademis tertentu dari dalam dan luar negeri, kebijakan melindungi mereka dari kepunahan tidak pernah bergaung sama sekali.
“Hendak kemana sanak sepagi ini”, sapaku.
Bujang bagak masih mengernyitkan kening menatap kearahku, air mukanya mencoba mengingat, tapi tak berhasil karena memang itu pertama kali dia berjumpa denganku, meski aku telah lama tau dengannya.
“Oh, aku nak ke kampung Sungai Besar, sanak hendak kemano, tampaknyo kito searah”, jawab Bujang Bagak dengan logat melayu Jambi..
Iyo, aku ni searah dengan sanak, cuman jalanku tak sampai ke kampung aku sampai ke Milhona je”.
“Kalau baitu bolelah aku menumpang, sampai ke Milhona pun tak apo”, ujar Bujang Bagak.
“Boleh lah..”.
Bujang Bagak berkendara bersamaku menuju camp Milhona, kabut pagi mengiring kami, sisa-sisa hujan semalam membuat jalan berlumpur, sehingga jalan menuju camp tidak mudah, berkali-kali ban motor terpeleset. Diatas motor Bujang Bagak menceritakan maksudnya, ia hendak membuat perhitungan dengan salah seorang penduduk kampung yang telah keji menumbang setumpak hutan, aku tak tahu banyak ujung pangkal permasalahan Bujang Bagak, dari ceritanya jelas dia dianiaya oleh tindakan penduduk kampung itu, di ranah hukum suku kubu sulit untuk di masukan hitungan, sekalipun mereka hidup dan tinggal dinegara berdaulat, dalam persoalan yang dihadapi Bujang Bagak kali ini misalnya, zahirnya bolehlah dia merasakan hutan setumpak itu kepunyaan dia dan sukunya, ketika hutan setumpak itu di tebangi orang-orang yang mengaku beradab, harga diri Bujang Bagak diinjak-injak, bagaimana aku harus menjelaskan padanya bahwa tidak satupun ninik mamak kampung yang boleh menebang hutan sebab ini adalah hutan lindung.
Puluhan tahun lalu Kubang Gajah merupakan tempat suaka Gajah, dihutan itu para Gajah hidup tentram, tiada kesulitan bagi kawanan Gajah untuk mencari makan, ratusan ekor jumlahnya tapi sekarang sisanya bisa dihitung jari, miris hati melihat secara langsung kepunahan mereka, dalam perjalanan menuju camp itu aku hanya berkata-kata dalam hati, aku paham Bujang Bagak hutan ini sebenarnya bukan milik mereka, tapi milik suku kamulah yang jelas-jelas bergantung hidup darinya.
“Kalau orang tu tak bisa diajak damai, aku potong Talingonyo”, suara dendam Bujang Bagak membuyar lamunanku.
“Ah, jangan sampai begitu keras sanak, bawolah baetong baik-baik dulu, apo sanak dah tau siapo ughangnyo?”, jawabku pula.
“Belum, tapi mudah bagiku nak tau sipao ughangnyo”,
Aku diam saja tak melanjutkan, segan pula terlalu dalam mengikuti persolan Bujang Bagak, sekitar setengah jam kami sampai di camp Milhona, sepi, pekerja telah berada di tempak mereka masing-masing, aku tawarkan Bujang Bagak mengopi di kedai Ana, dia tak menolak, dalam hatiku bersyukur ini kesempatan pertama untuk aku menanyakan langsung kepada kepala suku kubu tentang kehidupan mereka yang sesungguhnya.
Bujang Bagak membuka cerita;
Puluhan tahun lalu, ketika Kubang Gajah masih perawan orang-orang PT.TBS menciptakan parit besar di sepanjang perbatasan kebun perusahaan itu, parit itu sebagai bagian dari pencegahan agar Gajah tidak memakan pokok-pokok kelapa sawit dan kopra, banyak biaya dikeluarkan untuk pembuatan parit itu tapi usaha itu tak pernah berhasil.

Kehidupan kami berawal di pedalaman Jambi, hutan disana terus ditebang pada akhirnya kami terus berjalan sampai ke daerah Kubang Gajah ini, disini kami menempati setumpak hutan tepat di persimpangan, kemudian hari orang-orang balok menamakan persimpangan itu “Simpang Kubu”, hidup diatas pondok beratap terpal dan jerami daun, ketika orang-orang asing mulai berdatangan hutan dibelakang kami mulai ditebang lalu pada akhirnya kami harus mencari daerah baru sebab tak banyak lagi hewan yang bisa diburu.
Orang-orang PT.IPA secara resmi (Mungkin) pernah melakukan penebangan kayu disini, jenis Meranti dan jenis lainnya, tidak semua jenis kayu yang mereka tebang, namun pembalok yang datang setelah itu menumbang habis semuanya tanpa pilih-pilih.
Aku semakin semangat mendengar cerita Bujang Bagak, dan tak tahan untuk bertanya.
”Apo pernah orang-orang datang untuk mengajar mambaco di suku sanak?”,
“Hm,Seingat awak dulu”, Bujang Bagak mencoba mengingat,
“O, iyo, dulu pernah ado tapi dio dak mengajar dak, cuman belajar baso kami lah”,
Aku biarkan dia mengingat.
“A, iyo, baru ku ingat dulu pernah ado puan yang datang ke kami, nyo mengajar anak-anak mambaco, tapi sudah tu pai ntah kemano”,
“Berapo lamo orang itu di camp sanak?”, tanyaku.
“Dak lamo dak, cuman sebenta etongan bulan jugo, memangnyo ado apo dengan dio tu?”, Bujang Bagak penasaran.
“Sejak orang tu pergi ado anak-anak dari suku sanak yang sekolah atau bisa baco tulis”, aku memancing penasaran Bujang Bagak.
“Nan pandai baco ado, tapi nan masuk sikola dak”, jawabnya pula.
“Sanak suka dak orang-orang seperti mereka tu datang ke suku sanak?”,
“Kalau kami ni apolah, banyak kawan tu baik”, jawaban Bujang Bagak singkat.
Suku Kubu punya pandangan yang menarik soal penyakit, aku tidak terlalu banyak tahu istilah-istilah dalam perdukunan, mereka menyelesaikan perkara penyakit dengan mistik, dalam masalah mistik ini suku kubu sangat dikenal penduduk luar, tak satupun orang kampung sudi meremehkan kemampuan mereka menggunakan mistik untuk berbagai keperluan, memanfaatkan tanaman hutan, aku coba menyederhanakan keterangan Bujang ketika dia menceritakan filosopinya mengobati penyakit.
Aku menganggapnya objektif sebab Bujang Bagak adalah orang yang dituakan disukunya, kelompok suku kubu Bujang Bagak meyakini ketika seorang anak demam itu merupakan ketaguran setan, anak-anak bermain di tempat yang dihuni setan lalu salah seorang anak setan terluka atau terkencingi oleh anak-anak, setelah itu anak setan sakit, orang tua si pesakit itu tak membiarkan anaknya sakit begitu saja, maka disapanyalah anak-anak yang melukai atau yang mengencingi itu, lalu anak manusia itu jatuh sakit, badannya panas hingga beberapa hari, kalau tak segera diobati bisa saja berakhir kepada kematian. Bujang Bagak akan membacakan mantera lalu menyediakan beberapa pucuk daun-daun atau buah, sesajen kecil itu diletakkan di tempat anak-anak manusia tadi bermain, hari berikutnya demam panas anak itu akan turun.
Bujang Bagak meyakini sesajen itu adalah syarat yang akan digunakan setan untuk mengobati anak setan yang terlukai atau terkencingi itu, lalu melalui mantera Bujang Bagak setan itu pula yang akan mengobati anak manusia yang terkena demam panas, begitulah cara kerja yang diyakini Bujang Bagak.
Sederhana dan mengagumkan, Bujang Bagak yang tidak mengenal huruf abjad itu memperlakukan alamnya dengan hormat, dia begitu meyakini hidup itu bukan untuk saling menyakiti kepada yang haluspun demikian.
“Kalau musuh tu mudah nak caghi, tapi kawan nan baik susah”, kata Bujang Bagak.
“Aku tumpahkan kopi sanak ni sudah tu kito balawan gi, hah, kan mudah tu caghi musuh”, lanjut Bujang Bagak.
Perbincangan kami yang tidak terlalu lama itu menumbuhkan kedekatan baru antara aku dan Bujang Bagak, dikedai Ana Bujang Bagak membeli beberapa bungkus rokok, kami mengakhiri pertemuan itu dengan saling menukar nomor Phonsel, aku dan Bujang Bagak berjanji akan menjadi kawan yang baik, saling tolong menolong.
Langit siang itu mendung, pertanda sebentar lagi hujan lebat akan turun, aku bersama seorang kawan bermaksud mengunjungi camp Bujang Bagak sore itu, tapi di halang hujan yang benar-benar lebat sehingga jalanan tak bisa di lalui.
Hutan setumpak kepunyaan Bujang Bagak dan sukunya terakhir kulihat telah gundul dan telah dibakar, selama lima hari api tidak padam dihutan itu, malam itu aku dan lek Min memandang pasrah melihat bagian kehancuran itu.
....
Dikutip dari catatan "Pulau-pulau asap", by Fadli.

0 comments