"palayangan" padang lowe

kompas musafir
(courtesy image dharmasraya ekspres)
BATU RIJAL  – derasnya arus sungai Batang Hari tak menyurutkan niat Tomi untuk menderes sebidang kebunnya di Padang Lowe, dengan bantuan “palayangan” (perahu penyeberangan) Tomi salah seorang warga Bukit Bajang kecamatan koto baru setiap hari menyeberangi sungai Batang Hari demi menafkahi keluarganya. “ini jalan tercepat bagi saya untuk sampai ke kebun” demikian ungkapnya ketika ditanya Dharmasraya Ekspres.

Tapi tomi tidak sendirian, ada puluhan masyarakat lain yang memanfaatkan jasa “palayangan” yang terdiri dari berbagai profesi, mulai dari petani, pegawai, ibu-ibu rumah tangga dan pelajar. Ibu Ira misalnya sebagai perawat di puskesmas padang lowe setiap pagi menguji nyali menaiki “palayangan” dengan sepeda motornya. “ini satu-satunya jalur tercepat agar saya tidak terlambat apel pagi” ungkapnya kepada Dharmasraya Ekspres.

Keberadaan palayangan sebenarnya turut membantu perekonomian masyarakat padang lowe, setiap hari ibu-ibu berbelanja atau menjual hasil kebunnya di berbagai pasar yang digelar di nagari – nagari sekitarnya dengan menyebarang sungai batang hari.

Kecamatan Padang Lowe merupakan pemekaran dari kecamatan Koto Baru, dipisahkan oleh sungai batang hari, diseberangnya nagari Batu Rijal yang masih termasuk dalam kecamatan Padang Lowe, Sampai saat ini jalur terdekat yang sering digunakan masyarakat menuju padang lowe melalui nagari Batu Rijal , kendati demikian bukan berarti tidak ada jalur lain, ada yaitu melalui jembatan pulai, namun kondisi jembatan itu kian hari semakin memprihatinkan, dan melalui nagari Lagan Jaya kecamatan Tiumang yang lebih jauh lagi ke arah timurnya.

Suherman(31) warga Batu Rijal jorong aur kuning, merupakan salah seorang penyedia jasa “palayangan”, menafkahi istri serta dua anaknya dengan menyewakan mesin motor “palayangan”, Suher mematok harga seratus ribu perhari untuk mesin motor yang dia sewakan, “dulunya ada delapan belas palayangan yang siap beroperasi, sekarang hanya tinggal tiga, dalam sebulan saya menyewakan palayangan selama empat hari” ungkapnya kepada dharmasraya ekspres.

“Penumpang palayangan dikenai harga lima ribu rupiah untuk setiap sepeda motor yang ikut diseberangi, sedangkan untuk orangya gratis, dari harga segitu penyedia jasa palayangan mampu mengumpulkan uang sewa hingga lima ratus ribu rupiah perharinya, beroperasi mulai pukul enam pagi hingga pukul sepuluh malam” ungkap suher kepada dharmasraya ekspres. Ketika ditanya dharmasraya ekspres suka dukanya melayani rute belah sungai itu, suher mengatakan “kalau hari hujan”, arus sungai akan lebih deras, banyak masyarakat yang tidak menyeberang karena takut.

“palayangan” tanpa sistem pengamanan yang baik sebenarnya cukup beresiko bagi penumpang, untuk itu diharapkan pemerintah memberikan perhatian serius kepada penyedia jasa palayangan dengan memberikan bantuan berupa jaket pelampung, untuk meminimalisir korban tenggelam jika perahu terbalik ditengah perjalalanan.(cr.3)

0 comments