Pendidikan Akan Tergadai

Pada tahun-tahun belakang ini kita melihat adanya banyak gejala tidak beres dalam dunia pendidikan seperti siswa yang tawuran, siswa yang secara rombongan membajak dan merusak bus kota, siswa yang menjadi korban narkoba, siswa yang tidak bersemangat belajar, siswa yang memperkosa teman sendiri. Banyak orang tua yang mengeluh bahwa anak-anak mereka kurang santun dalam bersikap dengan terhadap lain, terutama terhadap orang tua. Ada beberapa siswa yang secara berani menyekap gurunya di almari sekolah. Di beberapa tempat siswa ikut-ikutan orang tua saling bermusuhan dan bahkan ikut dalam saling membunuh kelompok yang tidak disukai.

Dari berbagai gejala itu menjadi nampak agak jelas bahwa pendidikan sekolah sampai sekarang ini masih terlalu menekankan segi pengetahuan, terlebih masih banyak yang menekankan pencapaian NEM tertinggi. Padahal kita tahu bahwa pendidikan generasi muda menyangkut seluruh aspek kemanusiaan seperti segi pengetahuan, sosial, moral, religius, emosi, dan juga hati. Cukup banyak orang yang pandai secara kognitif, tetapi karena hati, emosi dan juga kepribadiannya tidak tertata, menjadi gagal dalam hidup. Cukup banyak orang yang pandai dalam pengetahuan, tetapi hidupnya merusak orang lain bahkan merusak masyarakat dengan tindakannya yang amoral dan tidak adil seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan lain-lain.bukankah keadaan negara ini menjadi rusak juga disebabkan ulah banyak ahli yang asosial dan amoral? Jelas pendidikan yang hanya menekankan segi kognitif tidak mencukupi. Barangkali disini para pendidik perlu bertanya lebih mendalam. Sebenarnya pendidikan kita ini akan didasari apa? Pendidikan kita ini akan diarahkan kemana? Filsafat apa yang mendasarinya? Dengan melihat hal ini maka tidak terjadi bahwa pendidikan hanya ditekankan pada segi kognitif saja tetapi juga memperhatikan semua aspek kemanusiaan.

Usaha untuk membenahi pendidikan sudah banyak muncul. Para pengamat pendidikan dan juga orang tua mulai sadar bahwa pendidikan kita perlu dibenahi sehingga anak didik sungguh dibantu menjadi manusia yang utuh. Itulah sebabnya di banyak sekolah muncul penekanan pendidikan budi pekerti, pendidikan religiositas, live in untuk mengembangkan segi sosialitas, dan penekanan hak asasi manusia untuk lebih menghargai nilai kemanusiaan, termasuk nilai gender. Penyadaran akan nilai kemanusiaan, penghargaan terhadap pribadi orang lain, mulai banyak diperhatikan dan ditekankan. Hal ini sangat penting di masyarakat indonesia yang akhir-akhir ini sering kelihatan suka bermusuhan bahkan sampai melakukan pembunuhan terhadap orang lain yang tidak disenangi. Dalam hal ini pendidikan hukum menjadi penting untuk ditekankan agar ada tatanan yang mengatur hidup bersama. Pendidikan yang menekankan kebebasan berfikir dan bukan penindasan mulai dipikirkan. Juga mulai banyak sekolah menekankan pendidikan segi emosi dan mengembangkan EI (Emotional Intelligences) dan SI (Spritual Intelligences). Tentu semua usaha itu masih bersifat awal dan masih terus dikembangkan secara lebih sistematis.

Menteri pendidikan baru saja mengeluarkan keputusan bahwa ujian negara dihapuskan, ebtanas dihilangkan, kurkulum juga ditekankan kepada kurikulum berbasis kompentensi. Sekolah lebih bebas mengatur dan menentukan apa yang menjadi prioritas dan keunggulan sekolah itu sendiri, terlebih dalam menentukan apa yang menjadi prioritas dan keunggulan sekolah itu sendiri berdasarkan visi dan misinya. Inilah dampak dari keputusan tentang otonomi pendidikan. Dengan keputusan baru ini jelas sekolah ditantang untuk sungguh-sungguh mau memajukan diri sendiri dan tidak harus terus menerus menanti petunjuk dari atas, yang kadang tidak ada, ataupun tidak tahu apa yang terjadi di lapangan. Sekarang ini kesempatan bagi setiap sekolah untuk menentukan apa yang menjadi tekanan dari dari pendidikan yang diselenggarakan, sesuai dengan visi dan misinya. Nilai-nilai hidup mana yang mau ditonjolkan dari masing-masing sekolah perlu digali sendiri. Secara manajemen sekolah dapat mengatur manajemen sekolah secara efisien menurut situasinya sendiri.

Jelas dalam situasi seperti itu, kerjasama antar penyelenggara sekolah, pimpinan sekolah dan guru, serta masyarakat yang ada perlu dibangun. Dalam situasi seperti itu suasana demokrasi, dimana mereka dapat saling bicara, mengungkapkan gagasan dan idenya, sangat dibutuhkan. Jelas tidak semua sekolah siap dengan itu. Mereka yang tidak siap memang perlu dibantu agar pelan-pelan dapat semakin maju.

Peran guru dalam pendidikan sangatlah penting. Kegagalan atau keterlambatan pembaharuan pendidikan di Indonesia sekarang ini, bukan saja disebabkan oleh sentralisasi yang ketat selama bertahun-tahun, tetapi juga disebabkan oleh guru yang kurang mandiri, yang hanya ikut-ikutan, yang tidak bermotivasi menjadi pendidik, dan tidak berdedikasi tinggi, serta tidak mempunyai kebanggaan hidup atas profesinya, guru yang tidak punya motivasi, yang hanya asal datang, mengajar, pulang dan diawal bulan antri mintak gaji. Tanpa mau berpikir tentang siswa, kiranya akan menghambat proses pendidikan manusia yang lebih utuh. Guru yang terus menerus menantikan petunjuk dari atasan, yang tidak kreatif yang tidak mengembangkan pengetahuan dan pribadinya, jelas menghambat kemajuan pendidikan. Apalagi guru yang tidak memberikan teladan dalam hal kehidupan, atau malah mmberikan teladan yang keliru, semua itu akan merusak proses pendidikan yang ada. Memang mencari guru yang sunggug berdedikasi tinggi untuk membantu siswa tidaklah mudah, terlebih dalam situasi dimana profesi guru kurang dihargai secara finansial seperti keadaan sekarang.

Realita yang cukup ekstrim seperti beberapa paragraf diatas hendaknya menjadikan semua komponen pendidik (termasuk orang tua tentunya) menjadi bahan refleksi kita bersama, adalah perlunya sikap refleksi dalam pendidikan, termasuk siswa diajak refleksi terhadap apa yang mereka kerjakan dan pelajari. Dengan sikap itu siswa tidak menjadi robot asal ikut omongan guru dan orang tua. Sehingganya peran guru yang biasanya hanya sebagai pengajar, sekarang ditekankan juga agar menjadi peneliti pendidikan dilingkungannya sendiri (refer to otonomi pendidikan).

Akhirnya, kita tahu bahwa masalah pendidikan sangatlah kompleks, tidak ada seorangpun yang dapat sendirian memecahkannya, yang diperlukan adalah kerja keras dan kerjasama antar semua pihak yang merasa konsen kepada dunia pendidikan.

0 comments