"CATATAN KERINCI"

“Bang!!, flasligth aku kau tarok dimana, dari semalam aku cari-cari!!”,

“kau tanya sama bang dul tu, kemaren dia yang pake”,

“Udah ditanyain tapi gak ada, katanya kau yang nyimpan”,

“alah anak ni, tiap mau berangkat selalu aja nyusahin”

Bang rip kesal karena istirahat sorenya terganggu, buru-buru dia menyisir laci meja ruang tengah.

“nih!!, kau makan sekalian”

“heh..heh..heh..akhirnya ketemu juga, makasih abangku yang baek, dah aku berangkat ya! Eh bang, liat kepala aku gak!!”

Sambil berlari menuju pintu,

“ah..setannya kau!!”

Bang Arip geram, sambil mencari sesuatu untuk dilemparkan, sebelum itu terjadi aku lari ke halaman, di jalan anggi, otoy pino telah menunggu dengan carrer 160 L dipunggung masing-masing, yap hari itu kami hendak menjelajah jauh ke padalaman Taman Nasional Kerinci Seblat, waktu itu hari menunjukan pukul 17.26 WIB, menumpang angkutan umum kami ke loket bus untuk memesan tiket perjalanan.

Matahari pelan perlahan turun ke ujung samudera hindia, menyisakan jingga dilangit, ditepi terminal ilegal itu kami berotopang dagu menanti bus jurusan sungai penuh, tak banyak yang dibicarakan, logistik dan perlengkapan lain telah dipacking rapi dalam tas masing-masing, tinggal membeli “racun” nafas untuk bekal dalam perjalanan dan di hutan nantinya, selain kebutuhan pribadi bagian ku dan pino membawa peralatan, anggi dan otoy bagian logistik, kami telah merencanakan ini jauh hari, awalnya berlima namun ican mendadak tak bisa berangkat karena harus memandu itik ke kandangnya setiap sore, biasanya hal itu dilakukan oleh fadil adik bungsu ican.

Beduk Magrib telah berlalu dari tadi, menunggu memang membosankan, hingar bingar kendaraan jalanan senja itu, tontonan gratis mengusir sepi, hingga pukul 17.45 WIB bus yang kami tunggu akhirnya menepi, kernet bus meneriakkan tujuan yang hendak dituju, kami bangkit memasukkan semua barang bawaan kedalam bagasi, empat puluh lima menit menunggu akhirnya bus mulai bergerak, tak ada berminat melakukan percakapan waktu itu, selain sopir bus dan seorang wanita paruh baya di bangku depan, kiri kanan jendela mini bus malam terlihat pekat, sesekali lampu mobil yang berlawanan arah menerangi isi dalam bus, alunan musik bernuansa daerah berputar-putar menuju bangku belakang lalu keluar lewat jendela dan tercercer sepanjang jalan, jika angin berbaik hati ia akan titipkan disetiap rumah yang dilewati.

***

GARDU PENJAGA

“ayo..yang turun disimpang macan bersiap-siap!!”,

Antara terjaga dan tidur aku mendengar teriakan kernet, kemudian membangunkan pino, otoy dan anggi. Kami turun tepat di depan tugu simpang macan, “wah namanya buas ya!!”

Aku tak bisa memperkirakan berapa jauh kami menyusuri jalan setapak, suasana dini hari yang masih pekat, sesekali kami disambut lolong anjing ketika melewati gubuk-gubuk petani dipinggir jalan, udara pegunungan nan dingin, yang terdengar hanya gemeretak gigi menahan dingin, langkah dipercepat sebelum lutut benar-benar beku, rokok putih teman yang cukup baik ketika itu, pagi yang gelap hendak membekukan kami.

lebih kurang satu jam kami berjalan, dikejauhan terlihat terang lampu disebuah pondok,

“itu gardu penjaga, ayo lebih cepat lagi!”

Pino memecah kedinginan. Di belakang gardu penjaga tampak sebuah rumah panggung dengan lampu taman dan disetiap sudut halamannya, gardu tempat melapor bagi pengunjung yang ingin menaklukan rimba dibelakangnya.

“suasana seperti ini tentu saja tak ada penjaga, aku pikir mereka lebih suka tidur dari pada membeku di gardu itu”,

“kita menunggu pagi disitu, ayo lebih cepat lagi, aku tak mau membeku disini”.

Anggi dan otoy memungut beberapa ranting basah, membuat unggun kecil sekedar pengusik dingin, aku dan pino membuka packing mulai memasang fiber, setelah semua beres kami masuk kantong tidur masing-masing.

Pagi itu kami dibangunkan oleh teriakan sekelompok mahasiswa pecinta alam yang sedang mengadakan pendidikan lapangan, mungkin lebih tepatnya ospek, didepan tenda anggi dan pino menikmati kopi pagi ditemani sepiring goreng cemilan,

“pagi indonesia!!”

Sapaan khas ketika menyambut pagi dialam terbuka.

“pagi ibu-ibu!!”

Jawaban khas untuk sapaan khas.

“hai..dari mana kalian dapatkan gorengan itu”

“ini menu pembuka dari teman kita yang sedang melakukan pendidikan itu, ternyata mereka dulu pernah satu kelompok waktu kita evakuasi di Banda dulu”,

Anggi menjelaskan singkat, dan aku tak tertarik untuk bertanya lebih lanjut karena mereka juga orang-orang yang sama dengan kami “petugas kemanusiaan”, udara pagi sesegar embun yang menetes, dibelakang rumah panggung ada sebuah bak kecil tempat untuk pelancong seperti kami melakukan upacara kecil, seperti cuci muka dan gosok gigi, dibelakang luasnya perkebunan teh, menjulang tinggi gunung kerinci dengan puncak yang masih ditutupi kabut, 3805MDPL kesana kami akan berangkat.

“hai!!! Kau push-up!! Kalian pikir senang menjadi pecinta alam”,

“kau juga!!. Merayap!!,

“jika ada yang mau mundur lebih baik sekarang, sebelum kami menyiksa batin kalian lebih dalam lagi”. Teriakan panitia dan senior MPA UBARI dalam membina adik-adik barunya sangat kontras dengan suasana pagi waktu itu.

Kami duduk melingkar membentuk huruf “U” memerhatikan siswa baru MPA Universitas Batang hari, ditemani dodi ketua panitia pelaksana,

“berapa hari rencana kalian ada disini”,

“belum tau dod, mungkin sampai habis liburan ini”

Pino menjelaskan.

“kalian beruntung cuaca mendukung saat ini, jika hujan hii…,aku pastikan kalian membeku sebelum sampai puncak”.

“he..he..kan udah di perhitungkan dod.”,

“biasanya rame gak turis datang kesini”,

Sela otoy.

“yah..seperti kalian tahu disini kawasan hutan lindung sebagai bagian paru-paru dunia, ada saja bule yang datang, biasanya hanya mengamati beberapa satwa liar, salah satunya harimau sumatera yang hampir punah”,

“harimau Sumatera!!”,

Otoy meyakinkan.

“yoi!! Harimau sumatera Panthera tigris sumatrae”

Bulu kuduk ku merinding mendengar apa yang baru saja dikatakan dodi, satwa liar itu dilegendakan dalam berbagai versi oleh masyarakat, dan jika beruntung kami akan menemukannya didalam sana.

“bukankah digardu itu ada penjaga, kemana perginya?, kepada siapa kami harus melapor?,”

Anggi mulai bersuara.

“benar biasanya penjaga telah datang jam segini, tapi entahlah mungkin ada hal lain”

“lalu apa yang sebaiknya kami lakukan dod?”

“mengingat waktu ada baiknya kalian berangkat sekarang, soal laporan biar nanti aku yang bereskan”,

Baik sekali teman baru kami ini, Atas petunjuk dodi kami berkemas, selang beberapa menit kemudian kami mengabadikan perjumpaan itu dengan jepretan kamera, sebelum berangkat kami bersalaman dengan seluruh siswa baru, diakhiri dengan wasiat singkat yang disampaikan pino menutup perjumpaan itu.

“dodi! Jika sampai awal bulan kau tak menerima kabar dari ku, silahkan hubungi tim SAR,”

“aku harap itu tidak terjadi, berhati-hatilah kalian”.

Belaian angin menyisir selah-selah daun, ketika kami mulai meninggalkan gardu penjaga, lebih kurang empat puluh lima menit lagi kami akan memasuki pintu rimba.

Hampir semua pendaki gunung menamakannya “pintu rimba” untuk jalan setapak di kaki gunung menuju lebatnya pepohonan. Kabut pagi masih setia menyelimuti kaki gunung, butir-butir embun menyapa kami yang sedang berlalu, udara berubah menjadi lembab, setiap menarik nafas seperti dihunjam panah-panah salju, dingin menembus paru-paru kami yang kotor.

Telingaku tidak terbiasa dengan kesepian hutan, sehingganya agak sedikit berdengung, kondisi seperti itu mungkin juga dialami oleh teman-temanku yang lain, sesekali suara burung tak berwujud memantul dari daun ke daun dipantulkan lagi oleh batang dan ranting, Demi menambah semaraknya suasana pagi beberapa ekor jangkrik ikut bersuara, bagiku suara jangkrik berkonotasi dengan angker. Lengkap sudah warna hati dipagi itu.

more at my collect privacy

0 comments