Menikah Dengan Gadis Suku Kubu

kompas musafir
"Indahnya pernikahan kami akan kurasa sampai ke Alam akhirat" tak berlebihan rasanya aku meumpamakan demikian. mengapa tidak, semenjak kami menikah hingga detik nafasku kini tak pernah ada pertengkaran diantara kami, sama sekali tiada pernah, telah lima belas tahun usia pernikahan kami. Aku hendak berbagi dengan kawan-kawan semua tentang lima belas lima tahun pernikahan kami melalui beberapa paragrap ini

Sebagai pemuda yang pernah mengecap pendidikan Universitas wajar kiranya aku melakukan lalu memilih sesuatu menurut tuntutan ijazah sarjanaku, demikian juga dalam hal pasangan hidup, bertemu dengan seorang gadis, berkenalan lalu tak lama kemudian menikahinya, maunya demikian alur hidup yang aku hendaki. Namun takdir berkata lain, aku melangkahi proses berkenalan, sebab berkenalan itu aku menikah. Menikahi seorang gadis keturunan kubu, telah Muslim dan berasal dari keluarga baik-baik.

Seperti yang kawan-kawan pernah baca, suku Kubu merupakan salah satu suku primitif yang dilindungi negara. pada kebanyakan, suku ini hidup di Rimba raya pedalaman, yang tersebar di beberapa penjuru dalam wilayah provinsi Jambi. Namun ada beberapa kelompok dari mereka yang telah tinggal menetap, dengan tradisi yang telah banyak disesuaikan dengan adat istiadat penduduk setempat, bisa dikatakan sudah agak moderen. Benar kawan, dengan salah satu dari merekalah aku menikah.

Tahun 1995 Sebuah perusahaan swasta terkemuka membuka areal perkebunan baru di wilayah kabupaten Merangin Jambi, aku menjadi salah satu pekerjanya, sebagai Mandor kebun. Satu Tahun hidup dan bekerja di pedalaman rimba seperti itu sangat membosankan tentunya, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, untuk menghilangkan kejenuhan aku dan kawan-kawan lain yang masih bujang sering batandang kerumah penduduk setempat, walau agak jauh dari Camp kami. Dari kebiasaan batandang inilah aku mendapat kesempatan "langka" melihat, memandang (sambil mematikan gerak waktu) kemudian mengaguminya.

Siti Hindun namanya, panggilan Siti, anak salah seorang mantan Kepala suku Kubu, harus aku terangkan namanya kawan, meski dalam tradisi suku kubu menyebut nama seseorang yang sudah meningga merupakan hal yang tabu. Suku kubu ditempatku bekerja umumnya menyembunyikan anak perawannya dari pandangan orang asing, aku orang asing bagi mereka yang secara kebetulan melihatnya dibalik jendela waktu itu. Kawan tahulah seperti apa lelaki, tak baik jatuh cinta maunya ingin segera bertemu, namun hal itu tak mudah dilakukan di sini.

Hasil diskusiku dengan kawan-kawan di-Camp memutuskan agar aku langsung menemui salah seorang paman Siti Hindun. Tanpa menunggu jerawat tumbuh subur, tiga hari setelah itu aku batandang kerumah pamannya, Bujang Unting namanya, menyampaikan maksud ingin berkenalan dengan ponakannya, tak berlama-lama dengan obrolan pembuka setelah itu aku mengatakan maksud tujuanku, beliau terdiam sejenak, kemudian sambil mengusap muka tiga kali Bujang Unting berultimatum "kalau kau hendak berkenalan dengan ponakanku, Kau harus sedia menikahinyo". Keputusan pak Unting membuatku mati kartu, dipenghujung kunjungan aku keluarkan As wajik bahwa empat hari lagi aku kan datang memberikan jawaban. Antara gelora asmara dan ancaman menikah dengan “ Kubu ditirai jendela” membuat mata tak sudi pejam kala malam.

Begitulah awal mulanya, hari kedua setelah kunjungan itu, dengan perhitungan yang matang, aku kabarkan ke kampung, kepada Ayah, Bunda dan ninik mamak bahwa aku hendak menikahi gadis kampung sini, lengkap dengan latar belakang keluarga Mendiang pak dusun yang telah muslim. Alhamdulillah keluarga dikampung tak banyak cincong, mereka setuju.

Empat hari kemudian aku kembali kerumah pak dusun menyampaikan kesanggupanku menikahinya. "Aku Bersedia Menikah dengannya, Pak", kataku, Bujang Unting menepati janjinya lalu dia memperkenalkanku dengan ponakannya. Pada mulanya aku memaklumi Siti tak menjawab semua pertanyaanku, mungkin dia masih malu sebab aku orang asing baginya. lama kelamaan aku terbiasa dengan caranya yang hanya menggangguk setiap aku tanya, setelah keluar dari rumah paman Siti pikiranku mulai terganggu dengan caranya yang tidak satupun membalas interaksi sosialku, namun semuanya kusimpan saja didalam hati. janji telah diikat, sebagai Pria sejati aku harus memenuhi janji itu.

28 Februari 1996 keluargaku datang meminang kerumah pak dusun, dalam situasi tak mengenal seperti apa keadaan Siti, Proses peminangan tidak terlalu rumit dan terlalu lama karena pada dasarnya tradisi meminang suku kubu hampir mirip dengan sukuku di Minang. Tiga bulan setelah acara meminang kami menikah, aku membawa Siti ke Camp perkebunan. Malam pertama itulah aku menyadari ternyata Siti mengalami kelainan pada lidahnya, sehingga dia tidak bisa bicara dengan baik, Oh .. Bisu.

Ketika aku coba urut ternyata dari sinilah "Indahnya pernikahan kami akan kurasa sampai ke Alam akhirat" itu bermula. Sauh diangkat bahtera mulai berlayar, diatasnya aku sang Mualim dan gadis bisu yang ikut serta kemana kompasku membawa bahtera. Walau cacat, Siti ternyata seorang wanita cerdas. Kami mengawali hari pertama dengan bahasa isyarat, simbol komunikasi paling bermakna yang pernah kukenal. Kawan boleh membayangkan gerak apa yang aku lakukan ketika menerangkan huruf “A, B, C” atau “1, 2, 3” kepada Siti sewaktu aku mengajarinya bentuk huruf dan angka.

Siti menguasai tulisan dan angka setelah dua bulan kemudian, ketika aku kesulitan memahami maksud gerak jari-jari lentiknya, dengan segera dia mengambil pulpen dan kertas untuk menulis “mengapa aku tak membawa perlengkapan sholat ke kebun tempat aku mengawas”. Tuhan telah Memberikan yang terbaik untukku yaitu bahasa isyarat dan kebisuan, lalu istriku tercinta mempertajam mata hatiku melalui gerak jari dan air mukanya, kalau ku cerminkan dengan zaman sekarang ini, bahasa isyarat ini mungkin tak banyak yang menguasai. Seiring dengan pandainya Siti menulis dan membaca, dia mulai menuliskan hal-hal lain yang menurutnya indah, seperti desiran angin yang terdengar di celah dedaunan pohon, atau sajak sederhana, dan catatan belanja.

kehidupan Rumah tangga kami jauh dari yang namanya omelan, tawa ngakak dan mempergunjingkan tetangga sebelah. Siti menyampaikan semua maksudnya dengan dua bahasa tadi, kepada tetangga dan semua orang yang berkomunikasi dengannya, kalau suatu saat presiden RI tersesat dikampung ini dan meminta pertolongan istriku untuk menunjukkan jalan semoga saja bapak presiden tidak tersingung dengan bahasa istriku.

Siti mengerti benar cara menyembuhkan keletihanku sepulang kerja, setelah menyuguhkan segelas jahe panas, digiringnya tanganku kehalaman belakang, duduk di pale-pale sambil memijit pundakku, lalu kemudian dia mengeluarkan secarik kertas, bahasa tulisan yang telah dibuatnya hari itu. Untuk kawan aku tunjukkan sebagian tulisannya.

“... di depanmu lembah hijau membentang, rumah-rumah mungil di lereng perbukitan, sayup-sayup tapi sampai gesekan biola menjadi paduan sempurna di saat angin-angin menghembuskan nafasnya yang lembut. mari kita rebahkan sejenak kepala ini ...”

Sesuai skalanya aku mengagumi semua tulisannya. Cintanya tak bisa ku ungkap dengan bahasa lisan tak bisa ditakar dengan tenung namun jelas bagi mata hati. agak Sekalipun, tiada pernah dia langgar sesuatu yang aku larang. Gerak tangan menyatukan kami setiap hari, dekat semakin dekat dan semakin dekat lagi, begitulah kira-kira cinta yang tak kuasa dilisankan istriku.

Kecuali bahasa lisan istriku Siti wanita yang normal, dua tahun setelah menikah Siti melahirkan seorang bayi perempuan nan cantik dan normal. Melalui beberapa lembar kertas kami sepakat memberinya nama Sri indreswari.

Mendidik dan membesarkan seorang anak bukanlah perkara yang mudah, terlebih dengan keadaan istiku yang demikian. Sri tumbuh dalam bahasa isyarat dan lisan, sesuatu yang membuatnya merasa beruntung dari anak-anak lain seusianya.

Hingga cerita ini ditulis oleh Zulfadli, kami telah di Anugerahi lima orang anak yang mana semuanya lahir dengan normal. Kepada Penguasa Jagad Raya syukurku yang tak terhingga, aku di Anugerahi seorang istri bisu, Amanah yang akan kujaga sampai mati. Dengan demikian setidaknya istriku jauh dari sifat menggosipkan infotaiment atau membicarakan kekurangan orang-orang disekitarnya. Kalau saja Tuhan menjodohkan gadis Buta waktu itu, aku bersedia menjadi mata untuknya, menempuh hidup di dunia nan berlumur dosa ini.

Lembah Bunian
Fadli. 17 Desember 2010

tulisan ini juga dimuat di kompasiana dan kompasmusafir.blogspot.com

0 comments