Bayang-bayang

Sobat ini ada sedikit pandanganku tentang bayang-bayang, Kamu, dia, mereka dan mungkin saja kita akan selalu hidup dalam bayang-bayang, mungkin tak akan satu pun yang luput dari bayang-bayang. Jika pengalaman isi dari hidup ini, maka semua pengalaman itu berpotensi menjadi bayang-bayang, ketakutan, kesenangan, suka, duka, semua itu akan membayang.
Menurutku Pekerjaan tersulit dalam hidup ini mungkin bukanlah mencari sesuap nasi, sesuap restu, sesuap kekuasaan, atau mencari sesuap ketenaran, selagi semua itu bisa dibayar dengan uang.

Izinkan aku mengatakan padamu bahwa yang tersulit dalam hidup adalah ‘keluar dari bayang-bayang’, setidaknya begitulah pendapatku. Jika sobat setuju anggukkan kepala!

Disanalah (bayang-bayang) semua dosa, khilaf dan hal-hal kecil lainnya terpendam, siapa yang mampu menafikan bayang-bayang, sekuat apapun dia, merasa bodoh dengan masa lalu, masa bodoh dengan dosa, dan remeh-temeh lainnya, tanpa disadari sebenarnya dia hanya mencoba lari sesaat dari kejaran dosa dan bayangan masa lalu itu.

Sobat Aku tak bermaksud membuatmu tersudut oleh bayanganmu sendiri, tapi inilah kenyataan, aku kamu dan segelintir lainnya menciptakan dosa yang mungkin saja akan bermetamerfosa membentuk bayang-bayang di benak dan sanubari.

Tapi beginilah hidup, menjalani takdir, nasib, dan berbagai pernak-pernik lainnya yang disiapkan Tuhan jauh sebelum alam semesta ini diciptakan.

Menurutku! Setidaknya ini menurutku saja, bayangan yang buruk akan melahirkan penyesalan, lambat atau cepat hati yang segumpal itu akan mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang disesalkan, memilih, dipilih atau tidak memilih sama sekali merupakan bagian hidup yang akan selalu disertai bayang-bayang, ketika suatu peristiwa yang menyakitkan di masa lalu bagi seseorang, lalu pada saat ini dihadapkan pilihan yang sama, akan besar kemungkinan dia tidak akan membuat pilihan sekalipun berada pada peradaban yang berbeda dari masa lalunya tersebut.

Kalau begitu alangkah banyaknya macam bayang-bayang, menurut seseorang yang tidak bersedia disebutkan namanya, hal terbodoh yang sering dilakukan adalah menyamakan bayang-bayang, membuat keputusan atas dasar bayang-bayang, memilih seseorang atas dasar bayang-bayang, memilih teman untuk membina mahligai rumah tangga atas dasar bayang-bayang atau ‘membuat pilihan’ agar terlepas dari bayang-bayang, Sementara jauh di hati yang terdalam, bayang-bayang akan selalu mengejar(ke sudut planet mana kau hendak lari ) mungkin tidak demikian seharusnya.

Memaafkan bayang-bayang, menurutku itu pekerjaan tersulit kedua, hanya orang-orang yang telah mencapai ‘tingkat’ tertentu yang kuat melakukan ini, jujur aku pun belum mencapai tahap ini, segelinitir manusia kadang mengaku dia telah kenyang asam garam, pahit manisnya hidup ini, tapi kuatkah dia memaafkan bayang-bayangnya sendiri?

Meminjam puisi pak Sapardi; aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang, aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan. Pak Sapardi mungkin sedang mengajarkan kita agar berdamai dan memaafkan bayang-bayang .

Menurutku ada benarnya pepatah kuno yang menyatakan ‘hiduplah dengan kejujuran, karena kejujuran mata uang yang berlaku dimana saja’, izinkan aku meleburkan sedikit saja pepatah kuno ini, berkata jujur kepada hatimu akan memudahkanmu melupakan bayang-bayang, setelah itu kerja kecil lainnya yang perlu kita lakukan adalah maafkanlah diri kita.

Mungkin tak ada ‘pil’ ajaib yang aku punya agar kita tidak hidup dibawah bayang-bayang penyesalan.

0 comments